Hari Batik Nasional, Menghidupkan Kembali Batik Ciamis yang Mati Suri
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, LINTASMEDIA. ID.
Peringatan Hari Batik Nasional menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan industri batik Ciamis yang pernah mengalami kejayaan, tetapi kemudian mati suri akibat perubahan zaman, teknologi produksi, dan pergeseran selera pasar.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah generasi muda mulai mencoba menghidupkan kembali batik khas Tatar Galuh dengan mengembangkan motif lokal sekaligus menjadikannya bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Batik Ciamis memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat. Namun, kejayaan industri batik tersebut perlahan meredup hingga sejumlah sentra produksi tidak lagi beraktivitas seperti masa lalu.
Salah satu yang menjadi bagian dari sejarah panjang perbatikan Ciamis adalah Koperasi Rukun Batik Ciamis yang kini tinggal kenangan. Peralatan produksi seperti mesin dan canting yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas para pembatik pun tidak lagi menjadi penggerak utama industri batik di daerah ini.
Perubahan teknologi turut mempercepat pergeseran industri tersebut. Batik tulis yang membutuhkan ketelitian, keterampilan dan waktu pengerjaan cukup panjang harus berhadapan dengan batik cap, produksi menggunakan mesin hingga kain bermotif batik yang dibuat melalui teknologi printing. Kondisi itu membuat batik tradisional semakin sulit bersaing dari sisi harga maupun kecepatan produksi, sehingga industri batik Ciamis mengalami masa panjang yang dapat disebut sebagai mati suri.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak sepenuhnya memutus harapan. Dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul generasi muda yang berusaha membangun kembali batik Ciamis dengan pendekatan baru. Mereka tidak hanya mempertahankan keterampilan membatik, tetapi juga menggali kekayaan alam dan budaya daerah untuk diterjemahkan menjadi motif yang memiliki identitas lokal. Di Kecamatan Kawali berkembang Batik Bunga Cakra, sementara di Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, hadir Batik Bungur. Di Kecamatan Ciamis juga terdapat Jevan Batik yang ikut memperkenalkan produk batik lokal kepada masyarakat.
Penggerak Batik Bungur, Elsa Nuari Hardiana, mengatakan Batik Bungur merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya diarahkan untuk edukasi, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan membatik. Motif yang dikembangkan mengambil inspirasi dari kekayaan alam Desa Jalatrang, khususnya bunga bungur yang kemudian diolah menjadi identitas visual dalam karya batik.
“Setiap motifnya bercerita tentang dedikasi dan kesabaran. Mewariskan pesona yang tak lekang oleh waktu. Memakai batik bukan hanya sekadar bergaya, tapi kebanggaan melestarikan budaya,” ujar Elsa.
Menurutnya, keberadaan batik tidak cukup dipandang sebagai produk fesyen, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, pengembangan motif lokal menjadi penting agar batik tidak kehilangan karakter daerah di tengah persaingan industri tekstil yang semakin modern.
Momentum Hari Batik Nasional dengan demikian menjadi kesempatan untuk tidak hanya mengenakan batik sebagai simbol kebanggaan, tetapi juga melihat persoalan industri batik dari hulu hingga hilir. Batik Ciamis membutuhkan regenerasi pembatik, penguatan pasar, inovasi motif, dukungan terhadap pelaku usaha serta keberanian generasi muda untuk menjadikan batik sebagai produk budaya sekaligus komoditas ekonomi.
Batik Ciamis memang pernah kehilangan kejayaannya. Namun, munculnya Batik Bunga Cakra, Batik Bungur dan Jevan Batik menunjukkan bahwa tradisi tersebut belum benar-benar berakhir. Tantangannya sekarang adalah bagaimana tunas-tunas baru itu dapat tumbuh menjadi industri yang kuat, sehingga batik Ciamis tidak hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi kembali menjadi kekuatan ekonomi dan identitas budaya masyarakat Tatar Galuh.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar