Festival Literasi Ciamis 2026: Ketika Membaca Menjadi Bekal Menghadapi Zaman
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
- visibility 71
- comment 0 komentar
- print Cetak

oplus_0
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, LINTASMEDIA. ID.
Di tengah derasnya arus informasi digital, membaca bukan lagi sekadar aktivitas membuka halaman demi halaman buku. Kemampuan memilah informasi, memahami perubahan, dan terus belajar menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Pesan itulah yang terasa dalam pembukaan Festival Literasi Kabupaten Ciamis 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) di halaman Kantor Dispusip Ciamis, Selasa, 22 September 2026.
Mengusung tema “Bersinergi dalam Literasi Mewujudkan Ciamis Maju dan Berkelanjutan”, festival yang berlangsung hingga 24 September 2026 tersebut menjadi ruang pertemuan bagi pelajar, pegiat literasi, pengelola perpustakaan, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menilai budaya membaca merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan zaman.
Menurutnya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan pembangunan fisik dan infrastruktur. Kualitas manusia yang mau belajar dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan juga menjadi bagian penting dari perjalanan Ciamis menuju daerah yang maju dan berkelanjutan.

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya membuka secara resmi Festival Literasi 2026
“Tidak mungkin maju kalau orang-orangnya pemalas, tidak mau membaca, tidak mau mengikuti perkembangan zaman. Pasti akan jauh tertinggal,” ujar Herdiat.
Pesan tersebut tidak hanya ditujukan kepada masyarakat, tetapi juga aparatur pemerintah daerah. Herdiat mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) tetap melahirkan inovasi meskipun pemerintah daerah menghadapi keterbatasan anggaran.
Baginya, efisiensi tidak semestinya mematikan kreativitas. Justru dalam kondisi keterbatasan, aparatur dituntut mencari cara baru untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan menghasilkan prestasi.
Literasi Tak Lagi Sekadar Bisa Membaca
Kepala Dispusip Kabupaten Ciamis, Okta Jabal Nugraha, mengatakan makna literasi kini semakin luas. Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kemampuan memperoleh, memahami, mengevaluasi, dan mengolah informasi secara bijak.
Karena itu, penguatan literasi perlu dilakukan hingga tingkat masyarakat paling bawah. Perpustakaan pun didorong tidak lagi dipandang sebatas tempat menyimpan dan meminjam buku.
Perpustakaan diharapkan berkembang menjadi ruang belajar yang terbuka bagi semua kalangan, sekaligus menjadi pusat aktivitas masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, kreativitas, dan produktivitas.
Festival Literasi Kabupaten Ciamis 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan, mulai dari pameran buku, panggung gelar karya, diskusi literasi, hingga bazar produk UMKM lokal.
Dispusip menargetkan sekitar 1.000 pengunjung selama tiga hari pelaksanaan festival. Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai pelajar, akademisi, pegiat literasi, pengelola perpustakaan desa, organisasi masyarakat, hingga masyarakat umum.
Bagi Ciamis, festival ini bukan semata agenda tahunan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Sebab, budaya membaca tidak tumbuh hanya karena adanya buku atau gedung perpustakaan. Ia membutuhkan kebiasaan, komunitas, kreativitas, dan kolaborasi yang terus dirawat.
Di tengah banjir informasi di era digital, kemampuan membaca dengan kritis menjadi bekal agar masyarakat tidak sekadar menjadi penerima informasi, tetapi mampu memahami, menyaring, dan memanfaatkannya untuk kehidupan.
Dari halaman Kantor Dispusip Ciamis, pesan itu kembali ditegaskan: membangun daerah tidak cukup hanya dengan membangun infrastrukturnya, tetapi juga harus membangun manusia yang mau terus belajar.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar