Festival Kopi Rajadesa Bukan Sekadar Seremonial, UMKM Didorong Naik
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, LINTASMEDIA.ID
Secangkir kopi menjadi pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi warga Desa Purwaraja, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis. Festival Kopi Rajadesa yang digelar di Desa Wisata Budaya Bambu Gunung Gede, Sabtu (26/9/2026), tidak hanya menyuguhkan kopi lokal, tetapi juga mempertemukan UMKM, kerajinan, budaya, dan potensi wisata masyarakat.
Festival tersebut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Kepala Balai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ciamis, Ketua Komisi V DPRD Kabupaten Ciamis, tokoh budaya dan kesenian, pemerintah desa, pelaku UMKM serta masyarakat.
Kepala Desa Purwaraja, Badri, mengatakan penyelenggaraan Festival Kopi Rajadesa tahun ini memiliki konsep yang lebih luas dibandingkan kegiatan sebelumnya. Kopi tetap menjadi bagian utama, tetapi ruang promosi diperluas dengan menghadirkan produk kerajinan dan berbagai usaha masyarakat.
Menurut Badri, festival jangan berhenti sebagai agenda tahunan yang selesai setelah panggung dibongkar. Justru yang lebih penting adalah bagaimana momentum tersebut dapat menciptakan aktivitas ekonomi yang berlangsung secara berkelanjutan.
“Festival hari ini ada yang berbeda. Ada kerajinan dan UMKM dari berbagai kalangan. Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya dilaksanakan setahun sekali, tetapi bisa berkelanjutan, minimal satu bulan sekali,” kata Badri.
Harapan itu berkaitan langsung dengan kondisi pelaku UMKM di tingkat masyarakat. Sebagian pelaku usaha selama ini harus berpindah-pindah tempat untuk mencari konsumen. Kehadiran kegiatan yang mampu mengumpulkan pengunjung dalam satu kawasan dinilai membuka peluang baru bagi mereka untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk.
“Alhamdulillah, UMKM merasa terbantu. Mereka biasanya keliling. Dengan adanya kegiatan seperti ini mudah-mudahan terbantu. Ke depan kami berharap ada komitmen dan niat usaha dari para pelaku UMKM,” ujarnya.
Salah satu bagian yang ikut diperkenalkan adalah Pasar Buhun, sebuah konsep pasar tradisional yang mengangkat kearifan lokal. Transaksi di dalamnya menggunakan wilah bambu sebagai alat tukar, sekaligus memperkuat identitas Desa Wisata Budaya Bambu Gunung Gede.
Konsep tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung, tetapi juga berupaya menghubungkan budaya dengan aktivitas ekonomi. Bambu, yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, ditempatkan sebagai elemen penting dalam pengembangan wisata dan kreativitas warga.
Bagi Badri, keberlanjutan program tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah desa. Pengembangan wisata, budaya dan UMKM membutuhkan keterlibatan masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, tokoh budaya hingga media.
“Harapan kami semua ikut andil sehingga ada dampak ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat. Desa sendiri tidak bisa berbuat banyak tanpa dukungan warga dan semua pihak,” katanya.
Di tengah pengembangan tersebut, kopi tetap menjadi identitas penting Rajadesa. Desa Purwaraja memiliki potensi kopi robusta yang menjadi salah satu komoditas masyarakat.
Karena itu, Festival Kopi Rajadesa pada akhirnya bukan semata tentang bagaimana kopi disajikan dalam secangkir minuman. Lebih jauh, festival menjadi upaya mencari cara agar potensi lokal—kopi, bambu, kerajinan, seni, budaya dan UMKM—dapat dirangkai menjadi ekosistem ekonomi desa.
Tantangannya kini bukan lagi sekadar membuat festival ramai dikunjungi, melainkan memastikan denyut ekonomi yang muncul dari festival dapat terus hidup setelah acara berakhir.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar