Kuliah Tak Tuntas, Jadi “Koh Ireng”, Kini Muhammad Hidayat Ingin Pulang Bangun Ciamis
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
- visibility 166
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, LINTASMEDIA.ID
Tidak semua orang yang gagal menyelesaikan kuliah kemudian kehilangan arah. Ada yang justru menemukan jalan hidupnya di tempat yang sama sekali tidak pernah dibayangkan.
Itulah perjalanan Muhammad Hidayat, ahli pewarna tekstil asal Sadananya, Kabupaten Ciamis.
Ia pernah duduk di bangku Akademi Tekstil Berdikari Bandung, Jurusan Kimia Tekstil, sekitar 1976. Namun, kuliahnya tidak sampai tuntas. Dunia kerja lebih dahulu memanggil.
“Mung hanjakal kuliah abdi henteu tuntas. Kaburu damel,” katanya mengenang.
Dari Bandung, Muhammad Hidayat kemudian memulai karier di PT POLKRIK, perusahaan yang bergerak di bidang zat warna. Perjalanan profesionalnya berlanjut hingga Jakarta, ketika ia dipercaya menangani penjualan zat warna dan bahan kimia tekstil (auxiliaries).
Awalnya ia bekerja sebagai tenaga laboratorium.
Tetapi dunia kerja membawanya naik kelas.
Ia kemudian dipercaya menjadi sales engineer sekaligus sales teknisi. Tugasnya bukan sekadar menjual produk, melainkan memahami kebutuhan industri tekstil, mengenali karakter bahan kimia dan pewarna, serta meyakinkan pelanggan bahwa produk yang ditawarkan mampu menjawab persoalan produksi.
Di Jakarta, ia berada di tengah tim yang beranggotakan 12 salesmen.
Sebelas di antaranya keturunan Tionghoa.
Hanya Muhammad Hidayat yang pribumi.
Sang bos bahkan memberinya julukan yang kemudian menjadi bagian dari kenangan hidupnya: “Koh Ireng.”
Namun, Hidayat tidak merasa kecil karena menjadi satu-satunya pribumi.
Ia justru menjawab persaingan dengan prestasi.
Target penjualan yang diberikan kepadanya berkali-kali tercapai. Bahkan, ia menjadi salah satu salesmen yang mampu mencatatkan pencapaian terbaik.
Ketika Anak Guru Masuk Dunia Dagang
Ada satu percakapan yang tidak pernah dilupakannya.
Saat diangkat dari tenaga laboratorium menjadi salesmen, kesepakatan gaji sudah dibuat. Mobil perusahaan pun siap digunakan.
Namun, sang bos tiba-tiba memanggilnya.
“Bapa tidak menyalahkan you. Ibu dan Bapa you guru. You ditempa dengan kebaikan dan kejujuran. Sedangkan ini dunia dagang,” kata sang bos.
Kalimat itu terdengar seperti peringatan.
Hidayat memahami maksudnya. Dunia perdagangan memiliki target, persaingan dan tekanan.
Tetapi sebagai anak dari orang tua yang berprofesi sebagai guru, ia merasa memiliki bekal yang tidak boleh ditinggalkan: kejujuran.
Dalam hati, ia teringat Nabi Muhammad SAW yang juga dikenal sebagai pedagang yang jujur.
Maka jawabannya sederhana.
“Mau saya coba, Pa.”
Sang bos yang semula serius justru tertawa dan terlihat gembira.
Hidayat pun membuktikan ucapannya.
Order berjalan. Pelanggan bertambah. Pabrik tekstil yang sudah menjadi pelanggan bahkan meningkatkan pembelian zat warna dan bahan kimia.
Sang bos akhirnya berkelakar,
“Mochamad, rupanya Tuhan lagi berpihak sama you. You dikasih target sama Bapa tercapai terus.”
Bagi Hidayat, pengalaman itu meninggalkan pelajaran yang jauh lebih mahal daripada sekadar angka penjualan.
Kejujuran yang ditanamkan orang tua ternyata tidak membuatnya kalah di dunia dagang.
Justru nilai itulah yang menjadi modal kepercayaan.
Berkali-kali Kalah, Tidak Berhenti Mengabdi
Setelah melewati perjalanan panjang di dunia industri dan perdagangan, Hidayat tidak ingin pengalaman itu berhenti menjadi milik dirinya sendiri.
Ia ingin pulang.
Bukan sekadar pulang secara fisik ke Sadananya, tetapi pulang membawa pengalaman dan ilmu yang diperolehnya selama bertahun-tahun.
“Saya sangat ingin berbagi ilmu. Hoyong ngiring ngamajengkeun Ciamis,” ujarnya.
Keinginan mengabdi itu pernah ia tempuh melalui jalur politik.
Ia pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif melalui Hanura. Kemudian maju dalam pemilihan kepala Desa Werasari. Terakhir, ia kembali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif melalui PPP.
Hasilnya?
Kalah.
Bukan sekali.
Beberapa kali.
Namun, Hidayat memilih menertawakan kegagalannya sendiri.
“Sadayana eleh, keok dan beog,” katanya sambil bercanda.
Barangkali di situlah letak kekuatan perjalanan Muhammad Hidayat.
Ia pernah gagal kuliah. Pernah menjadi satu-satunya pribumi di antara para sales keturunan Tionghoa. Pernah diuji soal kejujuran ketika memasuki dunia perdagangan. Dan pernah berkali-kali kalah ketika mencoba masuk ke ruang politik.
Tetapi ia tidak berhenti berjalan.
Kini, di usia dan pengalaman yang telah panjang, yang ingin dibawanya bukan lagi sekadar ambisi untuk menduduki kursi kekuasaan.
Ia ingin berbagi ilmu.
Ilmu tentang industri. Tentang pewarna tekstil. Tentang perdagangan. Tentang pengalaman hidup.
Dan yang paling penting, tentang bagaimana nilai kejujuran yang ditanamkan orang tua dapat menjadi bekal menghadapi dunia.
Dari Sadananya, Ciamis, Muhammad Hidayat pernah pergi mengejar kehidupan.
Puluhan tahun kemudian, ia ingin kembali.
Bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa ilmu yang telah ditempa oleh perjalanan panjang.
Sebab bagi seorang perantau, mungkin keberhasilan terbesar bukan ketika namanya dikenal di tempat orang lain.
Melainkan ketika ilmu yang diperolehnya selama hidup akhirnya bisa pulang dan memberi manfaat bagi tanah kelahiran.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar