Jejak Bupati Soekapura: Dari Nagara Hardja Winangun hingga Tasikmalaya
- account_circle Ki Acep Aan
- calendar_month Senin, 14 Sep 2026
- visibility 79
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TASIKMALAYA, LINTASMEDIA.ID
Sejarah Kabupaten Tasikmalaya tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang Kabupaten Soekapura. Pergantian para bupati, perpindahan pusat pemerintahan, perubahan nama wilayah, hingga berakhirnya era pemerintahan para menak Soekapura menjadi bagian penting dari jejak sejarah Tatar Sukapura.
Salah satu fase penting terjadi ketika Bupati Soekapura ke-VIII, R.D. Anggadipa Wiradadaha, yang dikenal dengan sebutan Dalem Dipati Sepuh, memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Soekapura dari wilayah sebelumnya ke kawasan Tanah Galuh.
Catatan sejarah yang disusun Acep Aan, S.Ag., dari keluarga besar Rd. Singamanggala Sukapura, menyebutkan bahwa setelah wafatnya Dalem Pasirtando atau R. Djaja Manggala/R. Adipati Wiratatanubaya yang dimakamkan di Sukaraja, kepemimpinan Soekapura dilanjutkan putranya, R. Anggadipa.
R. Anggadipa kemudian bergelar Dalem Adipati Wiradadaha. Pada masa pemerintahannya, pusat Kabupaten Soekapura dipindahkan ke Tanah Galuh, tepatnya kawasan Lebah Leuweung Tembong Gunung, Distrik Pasir Panjang yang kini masuk wilayah Manonjaya.
Kawasan tersebut kemudian dikenal dengan nama Nagara Hardja Winangun. Masa pemerintahan R.D. Anggadipa berlangsung sekitar empat tahun, hingga wafat pada 1836.
Dalem Dipati Sepuh meninggalkan 14 anak. Keturunannya kemudian tersebar dan menjadi bagian dari jaringan keluarga menak serta pemerintahan di berbagai wilayah Priangan.
Dari Nagara Hardja Winangun Menjadi Manonjaya
Setelah R.D. Anggadipa wafat, tampuk pemerintahan Soekapura beralih kepada R. Tanduwangsa. Ia bergelar Dalem Tumenggung Danuningrat dan dalam sejumlah catatan juga disebut Dalem Sepuh.
Pada masa pemerintahan Bupati Soekapura ke-IX tersebut, terjadi perubahan penting dalam sejarah wilayah. Nama Nagara Hardja Winangun kemudian berganti menjadi Manonjaya.
R. Tanduwangsa disebut memiliki 13 anak.
Setelah Dalem Danuningrat wafat, pemerintahan dilanjutkan R.R.G. Wiradimanggala yang dikenal dengan sebutan Dalem Sumeren. Namun, menurut catatan Acep Aan, ia tidak memiliki keturunan.
Kepemimpinan kemudian beralih kepada R. Tanu Wangsa yang dikenal sebagai Dalem Dipati Bogor. Ia mulai menjabat pada 1855. Sepuluh tahun kemudian, pada 1865, namanya berubah menjadi R. Tumenggung Wiradadaha.
Pada 1872, R. Tanu Wangsa memperoleh gelar Adipati. Pada tahun yang sama ia berhenti dari jabatan pemerintahan dan kemudian tinggal di Bogor sehingga dikenal sebagai Dalem Adipati Bogor. Ia tercatat memiliki 37 anak.
Dalem Bintang dan Perpindahan ke Tasikmalaya
Setelah Dalem Dipati Bogor berhenti, kepemimpinan Soekapura diteruskan R.D.D. Danukusumah yang bergelar R. Tumenggung Wirahadiningrat.
Karier pemerintahannya ditandai dengan sejumlah penghargaan. Pada 1889 ia memperoleh gelar Adipati, kemudian Bintang Mas pada 1893, Padjeng Kuning pada 1898, dan Bintang pada 1900.
R.D.D. Danukusumah wafat pada 1900 dan dikenal sebagai Dalem Bintang. Ia meninggalkan 19 anak.
Setelah itu, pemerintahan Soekapura beralih kepada R. Arja Prawiradiningrat atau Dalem Arija. Ia diangkat menjadi Bupati Soekapura di Manonjaya pada 28 Februari 1900.
Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan Kabupaten Soekapura kembali berpindah, kali ini ke Tasikmalaya pada 1900.
Perpindahan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan sejarah Tasikmalaya. Nama Soekapura perlahan memasuki babak baru dengan Tasikmalaya sebagai pusat pemerintahan.
Dalem Arija memiliki sembilan anak.
Dari Dalem Wiratanuningrat hingga Akhir Era Soekapura
Setelah Dalem Arija wafat ketika sedang berkunjung ke rumah mertuanya di Cianjur, pemerintahan diteruskan putranya, R. Wiratanuningrat. Dalem Arija wafat pada 18 Juni 1908 dan dimakamkan di Pasarean Cianjur.
R. Wiratanuningrat mulai menjabat sebagai bupati pada 24 Agustus 1908. Ia tercatat memiliki 16 anak.
Setelah wafatnya R. Wiratanuningrat pada 4 Mei 1937, jabatan bupati kemudian diteruskan R. Tumenggung Wiradiputra, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Dalem Bintang.
Pada 1938, R. Tumenggung Wiradiputra memperoleh gelar Adipati. Ia menikah dengan Ny. R. Bentang Radja, putri Dalem Bogor, yang masih memiliki hubungan keluarga. Dari pernikahan tersebut lahir tiga anak.
Dalam catatan tersebut, setelah R. Tumenggung Wiradiputra terdapat R. Mas Sunarja, yang disebut pernah menjabat sebagai Bupati Ciamis. Selanjutnya, jabatan Bupati Soekapura kembali dipegang R. Tumenggung Wiradiputra.
Sekitar 1949, Dalem Wiradiputra mengundurkan diri dan memasuki masa pensiun. Sejak saat itu, menurut catatan Acep Aan, putra-putra Soekapura belum kembali menduduki jabatan sebagai Bupati Soekapura.
Menelusuri Jejak Sejarah
Rangkaian nama para bupati tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Soekapura bukan hanya kisah pergantian kekuasaan. Di dalamnya terdapat perjalanan panjang mengenai perpindahan pusat pemerintahan, perubahan nama wilayah, hubungan kekerabatan, serta dinamika politik pemerintahan pada masa lalu.
Dari Nagara Hardja Winangun, Manonjaya, hingga Tasikmalaya, jejak Soekapura meninggalkan warisan sejarah yang penting bagi masyarakat Tasikmalaya dan Priangan.
Catatan tersebut disusun Acep Aan, S.Ag., dari keluarga besar Bani/Nasab R. Ali Santana, Salareuma, Cisayong, Tutugan Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Tutugan Galunggung, September 2026.
- Penulis: Ki Acep Aan

Saat ini belum ada komentar