Dari Kampung Desa Maparah hingga Gelar Doktor, Jejak Kikin Muttaqin Mengabdi Lewat Ekonomi Syariah
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
- visibility 108
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, LINTASMEDIA.ID
Tidak semua perjalanan menuju gelar doktor dimulai dari ruang yang serba lengkap. Ada yang berangkat dari tempat sederhana, dari jalan kampung, dari kehidupan masyarakat desa yang apa adanya, tetapi justru di sanalah tumbuh tekad untuk terus belajar.
Perjalanan itu tergambar dalam sosok Dr. Kikin Muttaqin, Sekretaris Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Ciamis. Ia tumbuh dari sebuah kampung di Desa Maparah, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.
Besar di lingkungan perdesaan yang dekat dengan kehidupan pesantren dan masyarakat dengan berbagai persoalan ekonomi di tingkat akar rumput, Kikin tetap menjaga konsistensi dalam membumikan ilmu-ilmu yang didapatkan di pesantren.
Sebagai santri, ia selalu taat pada amanah sang guru serta dunia pesantren yang telah memberikan bekal kekuatan perjuangan dan pengabdian. Dunia pesantren juga membuat keteguhan hati Kikin semakin kuat dalam menapaki perjalanan meski dihadapkan dengan berbagai hambatan dan kekurangan.
Kini, Kikin telah menyandang gelar doktor di bidang Ilmu Ekonomi Syariah. Gelar tersebut bukan sekadar tambahan pada deretan nama, tetapi menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang anak kampung yang menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk memahami persoalan masyarakat sekaligus mencari solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Maparah bukan sekadar tempat asal. Bagi Kikin, kehidupan desa dapat menjadi ruang belajar yang tidak kalah penting dari ruang kelas. Di sana, ia melihat bagaimana masyarakat bekerja, membangun usaha, menghadapi keterbatasan ekonomi, serta mempertahankan kehidupan dengan segala kemampuan yang dimiliki.
Pengalaman dari lingkungan tersebut kemudian menemukan jalannya ketika Kikin menekuni ekonomi dan keuangan syariah. Ia tidak berhenti pada pendidikan formal. Gagasan tentang ekonomi syariah juga ia tuangkan dalam berbagai tulisan dan kegiatan literasi.
Namanya tercatat sebagai akademisi di STAI Putra Galuh Ciamis dengan bidang kajian ekonomi syariah dan perbankan syariah. Sejumlah penelitiannya membahas persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, antara lain literasi keuangan syariah, perilaku keuangan pedagang pasar tradisional, hingga efektivitas zakat produktif dalam mendorong kemandirian ekonomi mustahik.
Bahkan sejak beberapa tahun lalu, Kikin telah menaruh perhatian pada pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui konsep zakatnomics. Ia melihat zakat bukan hanya sebagai bantuan yang selesai setelah diberikan, melainkan sebagai instrumen pemberdayaan agar masyarakat penerima manfaat perlahan mampu membangun kemandirian ekonomi.
Pemikiran tersebut semakin menemukan ruang pengabdiannya ketika Kikin dipercaya sebagai Sekretaris BAZNAS Kabupaten Ciamis. Dalam kapasitas tersebut, ia terlibat dalam berbagai upaya penguatan program dan pengelolaan zakat. BAZNAS RI pada Januari 2026 juga mengangkat pengalaman BAZNAS Ciamis dalam mengoptimalkan peran Unit Pengumpul Zakat (UPZ).
Menariknya, kegelisahan Kikin terhadap persoalan ekonomi masyarakat tidak berhenti pada teori. Ia pernah menyampaikan kekhawatiran terhadap masyarakat yang terjerat pinjaman daring, utang akibat judi daring, hingga rentenir. Dari persoalan itulah muncul gagasan bagaimana mustahik tidak selamanya menjadi penerima bantuan, tetapi dapat ditransformasi menjadi muzaki.
Di titik inilah perjalanan seorang anak kampung Maparah menemukan maknanya.
Gelar doktor yang kini disandang Kikin seolah menjadi penanda bahwa pendidikan dapat membawa seseorang melampaui batas geografis tempat kelahirannya. Namun, akar persoalannya tetap sama: bagaimana ilmu yang diperoleh dapat kembali kepada masyarakat.
Dari kampung, ia belajar tentang kehidupan. Dari bangku pendidikan, ia memperoleh ilmu. Dari dunia akademik, ia mengembangkan gagasan. Dan melalui BAZNAS, gagasan itu mendapatkan ruang untuk diuji dalam kenyataan.
Kikin kini berada pada fase baru perjalanan hidupnya. Gelar doktor bukan garis akhir, melainkan amanah intelektual untuk menjawab persoalan yang sejak awal dekat dengannya: bagaimana ekonomi syariah dapat benar-benar hadir di tengah masyarakat, terutama mereka yang hidup di lapisan paling bawah.
Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya seberapa tinggi gelar yang berhasil diraih, tetapi seberapa jauh ilmu tersebut mampu mengubah kehidupan orang lain.
Dan perjalanan dari sebuah kampung di Maparah menuju gelar doktor itu menjadi cerita tentang satu hal sederhana: jangan pernah menganggap kampung sebagai batas bagi sebuah cita-cita.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar