Susan Maya Fitriani, Sosok Berprestasi dari Sanggar Seni Dingdingari Galunggung
- account_circle Ki Acep Aan
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TASIKMALAYA, LINTASMEDIA.ID
Kiprah Susan Maya Fitriani di dunia seni tradisional dan modern di Jawa Barat tidak lepas dari sederet pengalaman dan prestasi yang telah diraihnya. Ketua Sanggar Seni Dingdingari Galunggung Kabupaten Tasikmalaya itu dikenal aktif sebagai seniman tari sekaligus juru kawih yang terus menjaga eksistensi seni dan budaya Sunda.
Perjalanan Susan di dunia seni telah membawanya tampil dalam berbagai kegiatan berskala nasional. Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Susan tercatat pernah terlibat sebagai penari di Keraton Yogyakarta dalam pertunjukan Purawisata Ramayana Ballet. Ia juga pernah tampil di Istana Negara serta aktif sebagai Duta Seni Kontingen Jawa Barat dalam sejumlah kegiatan nasional.
Pengalamannya tidak hanya berada di bidang seni tari. Susan juga pernah menjadi juru kawih Abah Asep Sunandar Sunarya selama sekitar 16 bulan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan keseniannya sekaligus memperkuat kemampuannya dalam seni vokal tradisional Sunda.
Sejumlah prestasi turut mengiringi kiprah Susan. Ia pernah meraih juara pertama tari tradisional tingkat Jawa Barat, juara pertama dangdut se-Jawa Barat, juara pertama dangdut Dapur Queen, serta juara pertama lomba kawih Sunda tingkat Jawa Barat.
“Saya konsisten di bidang seni, baik sebagai juru kawih maupun di bidang seni tari. Untuk itu, dukungan dari semua pihak, termasuk Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, sangat diharapkan,” ujar Susan saat ditemui di Kabupaten Tasikmalaya, Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurut Susan, keberadaan Sanggar Seni Dingdingari Galunggung menjadi bagian dari upaya untuk menjaga sekaligus mengembangkan seni tradisional dan modern klasik di Kabupaten Tasikmalaya. Sanggar tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkreasi dan melanjutkan keberadaan seni budaya daerah.
Sementara itu, Ustaz Deni dari Padepokan Panglipur Dingdingari Galunggung mengatakan, pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pelaku seni dan kebudayaan di Kabupaten Tasikmalaya.
“Saya sebagai budayawan dari Tutugan Galunggung berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat berperan aktif dalam memajukan seni dan budaya, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya,” katanya.
Ia juga mengapresiasi berdirinya Sanggar Seni Dingdingari Galunggung dan berharap dukungan terhadap pelaku seni dapat diberikan secara terbuka dan proporsional.
“Jangan sampai ada kesan tebang pilih dalam rekrutmen kegiatan seni yang diselenggarakan pemerintah. Semua pelaku seni harus mendapat kesempatan yang adil sesuai kompetensi dan kontribusinya,” ujar Ustaz Deni.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, sanggar seni, budayawan dan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlangsungan seni tradisional di tengah perubahan zaman.
Dengan pengalaman dan prestasi yang dimilikinya, Susan Maya Fitriani kini tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga berupaya menjadikan Sanggar Seni Dingdingari Galunggung sebagai ruang tumbuh bagi seni dan generasi muda di Kabupaten Tasikmalaya.
- Penulis: Ki Acep Aan

Saat ini belum ada komentar