Bendungan Jatigede Berdiri Megah, 39 Keluarga Parakan Kondang Masih Menunggu Kepastian
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMEDANG, lintasmedia.id
Di pagi yang tenang di tepian Bendungan Jatigede, suara air yang membentang luas seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang warga Kampung Parakan Kondang, Desa Kadujaya, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.
Di balik megahnya salah satu bendungan terbesar di Indonesia itu, ada kisah tentang 39 kepala keluarga yang hingga hari ini masih bertahan di tanah yang mereka cintai. Mereka hidup berdampingan dengan perubahan besar yang datang bersama pembangunan, namun belum sepenuhnya merasakan kepastian atas masa depan mereka.
Rumah-rumah sederhana masih berdiri. Anak-anak tetap berangkat sekolah. Para orang tua berjuang mencari nafkah dari pekerjaan yang kian terbatas. Sementara para lansia sering kali duduk memandangi hamparan air bendungan sambil mengenang masa lalu, ketika sawah, kebun, dan aktivitas ekonomi warga masih tumbuh subur di kawasan tersebut.
Amir (60), salah seorang warga, menegaskan bahwa masyarakat tidak sedang menolak pembangunan. Mereka juga tidak secara khusus menuntut relokasi. Yang mereka harapkan hanyalah kejelasan.
“Kami tidak meminta direlokasi. Kalau pemerintah memang memiliki kebijakan relokasi dan disertai penggantian yang jelas, tentu bisa dibicarakan. Yang kami inginkan sebenarnya kepastian,” tuturnya.
Bagi warga Parakan Kondang, persoalan yang mereka hadapi jauh lebih luas daripada sekadar tempat tinggal.
Sejak pembangunan bendungan mengubah wajah kawasan tersebut, sebagian sumber penghidupan ikut berubah. Lahan pertanian berkurang, aktivitas ekonomi menyusut, dan kesempatan kerja yang diharapkan muncul dari proyek besar itu belum sepenuhnya mereka rasakan.
Warga mengaku peluang kerja lebih banyak diisi tenaga dari luar daerah. Akibatnya, manfaat ekonomi yang diharapkan mengalir ke masyarakat sekitar belum terasa merata.
Ironi itu terasa begitu nyata. Di hadapan mereka berdiri infrastruktur raksasa yang menjadi kebanggaan nasional. Namun di saat yang sama, masih ada warga yang merasa tertinggal dalam arus pembangunan yang berlangsung di depan mata.
Meski demikian, mereka tidak kehilangan harapan. Setiap hari dijalani dengan kesabaran. Mereka tetap merawat kampung, menjaga kebersamaan, dan menaruh keyakinan bahwa suara mereka suatu saat akan didengar.
Kisah 39 keluarga di Parakan Kondang mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari kokohnya bangunan atau besarnya investasi. Pembangunan sejatinya juga tentang memastikan setiap warga mendapatkan rasa keadilan, kepastian, dan kesempatan yang sama untuk menikmati hasilnya.
Di tepian Jatigede, harapan itu masih hidup. Seperti air yang terus mengalir, warga Parakan Kondang percaya bahwa suatu hari keadilan dan kepastian akan menemukan jalannya menuju kampung mereka.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar