Festival Literasi Ciamis 2026: Ketika Perpustakaan Berubah Menjadi Ruang Belajar Bersama
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
- visibility 60
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, LINTASMEDIA.ID.
Festival Literasi Ciamis 2026 tidak sekadar menghadirkan buku dan aktivitas membaca. Selama tiga hari, 22–24 September 2026, Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Ciamis mencoba memperluas makna literasi menjadi ruang bertemu, belajar, berdiskusi, berkarya, sekaligus mengenalkan berbagai potensi masyarakat.
Mengusung tema “Bersinergi dalam Literasi, Mewujudkan Ciamis Maju dan Berkelanjutan”, festival ini menempatkan perpustakaan bukan hanya sebagai tempat menyimpan dan membaca buku, tetapi sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Ciamis H. Okta Jabal Nugraha mengatakan, festival tersebut diarahkan untuk meningkatkan budaya literasi sekaligus kompetensi masyarakat. Karena itu, peserta tidak hanya berasal dari kalangan pelajar, tetapi juga mahasiswa, akademisi, pengelola perpustakaan, pegiat literasi, pelaku UMKM, seniman hingga budayawan.
Dari Talkshow hingga Panggung Seni
Salah satu kekuatan Festival Literasi Ciamis 2026 terlihat dari keragaman kegiatannya. Agenda festival mencakup talkshow transformasi perpustakaan, talkshow literasi informasi, diskusi, promosi koleksi dan layanan perpustakaan, pameran serta gelar karya literasi.
Literasi juga dikemas melalui seni. Ada kegiatan bertutur, pemanggungan sastra, musik, kabaret hingga gamelan. Di sisi lain, masyarakat dapat menikmati bazar buku, pameran produk TBIS, literasi anak, lomba mewarnai, pelayanan publik serta pemberian penghargaan kepada pegiat dan pemenang kegiatan literasi.
Menariknya, peserta tidak dibatasi usia. Lomba mewarnai bahkan diikuti kalangan lansia. Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi dapat ditempatkan sebagai aktivitas lintas generasi, bukan semata kegiatan untuk anak sekolah.
Kelebihan Festival Literasi
Dari sisi konsep, festival ini memiliki beberapa kelebihan.
Pertama, pendekatannya cukup inklusif. Literasi tidak hanya diterjemahkan sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan mengakses informasi, berdiskusi, berkarya, berkreasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Kedua, melibatkan banyak unsur masyarakat. Kolaborasi pelajar, akademisi, komunitas, UMKM, seniman dan budayawan membuat festival memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang. Model seperti ini sejalan dengan gagasan Okta bahwa gerakan literasi tidak boleh berhenti di lingkungan perpustakaan.
Ketiga, perpustakaan diperkenalkan dengan wajah baru. Masyarakat diajak melihat perpustakaan sebagai ruang informasi, pengetahuan, pembelajaran dan diskusi, bukan sekadar ruangan berisi rak buku.
Keempat, literasi dipertemukan dengan budaya lokal. Sastra, musik dan seni budaya menjadi media alternatif untuk menyampaikan pesan literasi sehingga kegiatan tidak monoton.
Catatan yang Perlu Diperkuat
Di balik keberagaman agenda tersebut, ada beberapa hal yang dapat menjadi catatan pengembangan, terutama jika festival ini ingin memberikan dampak jangka panjang.
Pertama, keberhasilan festival tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan dan pengunjung. Setelah acara selesai, perlu terlihat apakah masyarakat benar-benar semakin sering membaca, memanfaatkan perpustakaan, menghasilkan karya atau meningkatkan kompetensinya.
Kedua, kegiatan tiga hari perlu memiliki program lanjutan. Talkshow dan diskusi akan lebih kuat apabila gagasan yang muncul diteruskan dalam bentuk kelas literasi, pendampingan komunitas, klub membaca, pelatihan menulis atau program literasi digital secara berkala.
Ketiga, keberagaman kegiatan harus tetap memiliki benang merah. Banyaknya agenda seni, UMKM, pameran dan perlombaan merupakan daya tarik, tetapi tujuan utama penguatan ekosistem literasi perlu tetap terlihat jelas.
Keempat, perlu ada evaluasi yang terukur. Okta sendiri menegaskan bahwa capaian indeks literasi tidak boleh berhenti pada angka, tetapi harus terlihat dalam semakin banyaknya masyarakat yang membaca, belajar dan memanfaatkan perpustakaan.
Jangan Berhenti sebagai Festival
Festival Literasi Ciamis 2026 pada akhirnya bukan sekadar acara tiga hari. Nilai terpentingnya justru berada pada apa yang terjadi setelah panggung dibongkar, stan pameran ditutup dan keramaian berakhir.
Okta Jabal Nugraha menempatkan perpustakaan sebagai pusat belajar sepanjang hayat. Gagasan itu menuntut konsekuensi bahwa festival harus menjadi pintu masuk menuju gerakan literasi yang berlangsung setiap hari.
Dengan demikian, keberhasilan Festival Literasi Ciamis tidak hanya ditentukan oleh meriahnya acara, tetapi oleh kemampuannya meninggalkan kebiasaan baru: masyarakat lebih gemar membaca, lebih kritis menerima informasi, lebih produktif berkarya dan menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sebab festival boleh berlangsung tiga hari, tetapi budaya literasi semestinya berlangsung sepanjang hayat.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar