Milangkala Gong Perdamaian Dunia 2026 di Karangkamulyan Ciamis Berlangsung Khidmat
- account_circle Ki Acep Aan
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, LINTASMEDIA.ID
Milangkala Gong Perdamaian Dunia 2026 di Situs Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berlangsung khidmat, Rabu, 9 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk kembali menghidupkan pesan persaudaraan, keharmonisan, dan perdamaian yang melekat pada keberadaan Gong Perdamaian Dunia di kawasan bersejarah Tatar Galuh.
Kegiatan dihadiri Abah H. Anton Carliyan, Bupati Ciamis, unsur Muspida dan Muspika, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, warga, serta sejumlah tamu undangan dari luar daerah.
Suasana berlangsung tertib. Gong raksasa yang berada di kawasan Situs Karangkamulyan menjadi pusat perhatian sekaligus simbol pesan universal bahwa perdamaian merupakan nilai yang melampaui batas suku, agama, ras, dan golongan.
Menurut Acep Aan, pemerhati seni, budaya, sejarah, dan kabuyutan wilayah Priangan Timur, keberadaan Gong Perdamaian Dunia di Karangkamulyan memiliki kaitan erat dengan posisi historis Tatar Galuh.
Gong tersebut ditempatkan di Ciamis sejak 9 September 2009. Prakarsa penempatannya, menurut Acep Aan, digagas oleh Irjen Pol. H. Anton Carliyan yang ketika itu menjabat sebagai Kapolwil Priangan.
Pemilihan Karangkamulyan sebagai lokasi Gong Perdamaian Dunia bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut merupakan salah satu situs penting yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Galuh dan kisah Ciung Wanara atau Sang Manarah.
Karangkamulyan karena itu tidak hanya dipandang sebagai kawasan peninggalan sejarah, tetapi juga ruang untuk merefleksikan nilai-nilai kearifan lokal dan pesan perdamaian yang diwariskan para leluhur.
Dalam konteks budaya, Gong Perdamaian Dunia diposisikan sebagai simbol persaudaraan universal. Pesannya sederhana, tetapi memiliki cakupan luas: membangun kehidupan yang harmonis dengan menghargai perbedaan.
Acep Aan juga mencatat sejumlah tokoh dan lembaga yang disebut memiliki peran dalam gagasan Perdamaian Budaya Dunia, antara lain Sartria Pasundan sebagai pencetus Hari Budaya Dunia dan Perdamaian Budaya Dunia, Juyoto Suntani sebagai Presiden Komite Perdamaian Dunia, Karen Merlin Suntani sebagai Direktur Komite Dunia, serta Dr. Sriwahyuni yang disebut sebagai pengusul ke Perserikatan Bangsa-Bangsa sekaligus tokoh yang melahirkan gagasan Gong Perdamaian.
Selain Ciamis, Gong Perdamaian Dunia juga tercatat berada di sejumlah lokasi, antara lain Bali, Ambon, Palu, Blitar, Sentul Bogor, New Delhi, Poltaya di Ukraina, serta Shandong, China.
Keberadaan Gong Perdamaian Dunia di Karangkamulyan dengan demikian memiliki dua dimensi sekaligus. Di satu sisi menjadi simbol perdamaian universal, sementara di sisi lain menjadi bagian dari lanskap sejarah dan kebudayaan Tatar Galuh.
Milangkala 2026 pun menjadi pengingat bahwa situs sejarah tidak semata-mata berbicara tentang masa lalu.
Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah, Karangkamulyan dapat menjadi ruang untuk merawat ingatan, memperkuat identitas budaya, sekaligus menyampaikan pesan perdamaian kepada generasi mendatang.
- Penulis: Ki Acep Aan

Saat ini belum ada komentar