Halaqoh Kebangsaan di Ciamis, Ikhtiar Merawat Keutuhan Bangsa dan Kemurnian Sanad Keislaman
- account_circle Bang Sufi/Yeyep
- calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
- visibility 53
- comment 0 komentar
- print Cetak

oplus_0
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, lintasmedia.id
Menjaga keutuhan bangsa tidak cukup hanya dengan membangun kekuatan secara politik dan ekonomi. Kesadaran sejarah, sikap saling menghormati, serta pemahaman keagamaan yang bersumber dari referensi yang dapat dipertanggungjawabkan juga menjadi bagian penting dalam merawat keberlangsungan Indonesia.
Semangat tersebut menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam Halaqoh Kebangsaan yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menjadi bagian dari persiapan menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Sabtu, 22 Agustus 2026 di Auditorium Miftahul Ulum Ciamis.
Halaqoh kebangsaan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komitmen menjaga kedaulatan, keutuhan, keberlangsungan, dan kemajuan bangsa. Forum ini juga mendorong masyarakat untuk memiliki pengetahuan yang memadai mengenai sejarah perjalanan bangsa Indonesia, sejak masa awal hingga berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Selain wawasan kebangsaan, pembahasan juga menyentuh pentingnya menjaga kemurnian sanad keislaman atau keagamaan sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan pengetahuan dan tradisi keilmuan Islam.
Menguatkan Kesadaran Sejarah
Ketua PCNU Kabupaten Ciamis, KH Arief Ismail Chowas, mengatakan bahwa setiap anak bangsa harus memiliki sikap saling menghormati dan menghargai. Menurutnya, perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menyalahkan.
Arief menilai, pemahaman terhadap sejarah dan ajaran agama perlu dibangun berdasarkan referensi yang benar. Dengan demikian, masyarakat tidak mudah terjebak dalam penilaian yang dapat menimbulkan pertentangan.
“Intinya saling memahami berdasarkan referensi yang benar dan tentu bukan untuk menyalahkan orang lain terkait masalah di antara nasab. Ini menjadi bagian penting ilmu fikih,” ujar Arief.
Menurutnya, warga NU memiliki tradisi keilmuan yang erat dengan sejarah dan ajaran Islam. Pemahaman tersebut sekaligus menegaskan bahwa kehidupan bermasyarakat tidak boleh dibangun berdasarkan kasta sosial.
Nasab Perlu Dipahami Secara Bertanggung Jawab
Salah satu pembahasan yang menjadi perhatian dalam halaqoh tersebut berkaitan dengan ilmu nasab. Arief menjelaskan, pengetahuan mengenai nasab memiliki konsekuensi dalam sejumlah persoalan keagamaan, terutama berkaitan dengan waris dan pernikahan.
Karena itu, persoalan nasab perlu ditempatkan secara proporsional dan berdasarkan ilmu serta referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, identitas nasab tidak semestinya dibangun hanya berdasarkan pengakuan tanpa dasar yang jelas.
“Ilmu nasab diperlukan dalam hal waris dan pernikahan. Ini harus diluruskan demi keterjaminan kebenaran dan pertanggungjawaban nasab, tidak bisa hanya mengaku-ngaku. Jangan sampai mencelakakan orang lain,” tegasnya.
Arief mengingatkan, persoalan yang berkaitan dengan agama dan identitas sosial merupakan hal yang sensitif. Jika tidak disikapi secara bijak dan berdasarkan pengetahuan yang benar, persoalan tersebut berpotensi menimbulkan keretakan di tengah masyarakat.
“Untuk menjaga keutuhan dan keberlangsungan bangsa dan agama, hal-hal yang sangat sensitif harus disikapi dengan hati-hati agar tidak mengakibatkan keretakan,” ujarnya.
Halaqoh sebagai Ruang Merawat Kebersamaan
Halaqoh Kebangsaan di Ciamis pada akhirnya tidak sekadar menjadi forum diskusi. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan wawasan kebangsaan, sejarah, dan keagamaan dalam satu semangat, yakni menjaga persatuan.
Di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang dan pandangan beragam, sikap saling menghormati menjadi modal penting untuk menjaga keutuhan bangsa.
Semangat kemerdekaan pun tidak berhenti pada perayaan. Momentum HUT RI ke-81 diharapkan menjadi pengingat bahwa menjaga Indonesia merupakan tanggung jawab bersama.
Melalui Halaqoh Kebangsaan, upaya merawat sejarah, keilmuan, agama, dan persaudaraan diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar panjang menjaga kedaulatan, keutuhan, keberlangsungan, dan kemajuan bangsa Indonesia.
- Penulis: Bang Sufi/Yeyep

Saat ini belum ada komentar