Ajengan Kuda Soroti Klaim Nasab Habaib, Minta Umat Islam Kritis
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
- visibility 66
- comment 0 komentar
- print Cetak

oplus_0
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, lintasmedia.id.
Ajengan Kuda, yang juga Penasehat DPW Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) Jawa Barat, menyampaikan pandangan kritis mengenai klaim para habib di Indonesia yang menyatakan memiliki hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad SAW.
Dalam penyampaiannya, Minggu , 30 Agustus 2026, dalam acara Maulid Nabi di Desa Budiharja, Ajengan Kuda meminta masyarakat, khususnya umat Islam, agar tidak mudah menerima klaim mengenai nasab tanpa memahami sejarah dan memiliki dasar rujukan yang jelas.
Ia bahkan menyatakan bahwa menurut pandangannya, para habib yang dimaksud bukan merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW. Ajengan Kuda mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap narasi yang menurutnya dapat membuat masyarakat menerima sebuah klaim tanpa melakukan kajian.
“Jangan sampai umat tertipu oleh narasi yang belum jelas kebenarannya. Gelar habib hanya untuk Nabi Muhammad SAW,” ujar Ajengan Kuda.
Ia juga menyoroti narasi mengenai Faqih Muqaddam yang disebut-sebut sebagai leluhur sebagian kelompok yang mengklaim memiliki garis keturunan tertentu. Menurut Ajengan Kuda, terdapat cerita yang menyebut Faqih Muqaddam mampu melakukan Isra Mikraj hingga 70 kali dalam sehari.
Ajengan Kuda menilai cerita tersebut perlu dipertanyakan secara serius karena, menurutnya, peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan peristiwa yang memiliki kedudukan khusus dalam sejarah Islam.
“Mereka berulang kali mengaku-ngaku cucu Nabi Muhammad SAW dan mengaku ada leluhurnya Faqih Muqaddam yang bisa Isra Mikraj 70 kali sehari. Ini jelas kebohongan karena Nabi Muhammad saja hanya sekali melakukan Isra Mikraj,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada umat Islam untuk lebih kritis dalam menyikapi berbagai informasi keagamaan, terutama yang berkaitan dengan sejarah, nasab, dan tokoh-tokoh Islam.
Di tengah derasnya informasi melalui media sosial, persoalan nasab menjadi isu yang sensitif. Karena itu, setiap klaim mengenai garis keturunan Nabi Muhammad SAW idealnya dikaji berdasarkan sumber sejarah, dokumen nasab, serta keterangan para ahli yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.
Pandangan Ajengan Kuda tersebut merupakan pendapat yang disampaikannya dalam kapasitas sebagai tokoh agama dan penasehat organisasi. Adapun kebenaran mengenai garis keturunan seseorang maupun riwayat tentang Faqih Muqaddam tetap memerlukan verifikasi melalui sumber sejarah dan kajian nasab yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Ajengan Kuda, sikap kritis diperlukan agar umat tidak mudah terpengaruh oleh klaim keagamaan yang belum memiliki dasar kuat. Ia mendorong masyarakat untuk mengedepankan ilmu, tabayun, dan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam memahami sejarah Islam.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar