Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini Publik » Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

  • account_circle Admin Lintas Media
  • calendar_month 13 jam yang lalu
  • visibility 15
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 

Oleh: Roni Imroni
Kepala Bidang IKP Dishubkominfo Kabupaten Tasikmalaya

Perguruan tinggi bukan sekadar tempat seseorang mengejar gelar akademik. Ia adalah ruang pembentukan ilmu, karakter, nalar, etika, dan kepemimpinan. Dari ruang inilah lahir calon-calon profesional, birokrat, pendidik, pengusaha, pemimpin masyarakat, bahkan pengambil kebijakan publik di masa depan.

Karena itu, proses masuk ke perguruan tinggi tidak boleh dipandang sebagai urusan administratif semata. Penerimaan mahasiswa baru adalah pintu awal yang menentukan marwah dunia akademik. Bila pintu itu dijaga dengan kejujuran, maka kampus akan melahirkan manusia yang percaya pada kemampuan diri. Namun bila pintu itu dibuka oleh titipan, tekanan, kedekatan, atau bantuan orang dalam, maka sejak langkah pertama nilai pendidikan sudah mulai dilukai.

Slogan “Natural Tanpa Ordal” lahir dari kesadaran sederhana, tetapi sangat mendasar: keberhasilan akademik seharusnya ditempuh melalui kemampuan, kerja keras, kesiapan mental, dan prestasi. Bukan melalui jalan belakang. Bukan karena bisikan pihak tertentu. Bukan pula karena akses khusus yang membuat sebagian orang merasa memiliki jalur lebih dekat menuju bangku kuliah.

Seruan ini bukan untuk menyerang siapa pun. Ini adalah ajakan moral untuk semua pihak, baik yang terlibat langsung dalam sistem pendidikan maupun yang berada di luar sistem. Untuk calon mahasiswa, orang tua, penyelenggara pendidikan, pejabat publik, tokoh masyarakat, alumni, hingga siapa pun yang memiliki pengaruh sosial. Sebab integritas akademik tidak hanya dijaga oleh aturan, tetapi juga oleh kesadaran bersama.

Kita perlu jujur melihat kenyataan. Dalam kehidupan sosial, istilah “ordal” atau orang dalam sering dianggap sebagai hal biasa. Bahkan dalam banyak percakapan, ia kadang dibungkus sebagai strategi, peluang, atau bantuan. Padahal, ketika orang dalam digunakan untuk memotong proses, menekan sistem, atau membuka akses yang tidak semestinya, di situlah masalah etik dimulai.

Relasi sosial tentu tidak salah. Silaturahmi tidak salah. Mengenal banyak orang juga bukan dosa. Yang menjadi persoalan adalah ketika kedekatan berubah menjadi alat untuk memperoleh hak yang seharusnya diperebutkan secara adil. Ketika koneksi mengalahkan kompetensi, ketika privilese menggeser prestasi, dan ketika titipan dianggap lebih kuat daripada kemampuan, maka dunia pendidikan sedang kehilangan salah satu fondasi utamanya: kejujuran.

Budaya ordal yang disalahgunakan dapat membuka ruang bagi banyak persoalan serius. Ia bisa menjadi pintu masuk gratifikasi, konflik kepentingan, penyalahgunaan wewenang, dan intervensi terhadap proses seleksi. Lebih jauh dari itu, ia dapat merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.

Kepercayaan publik adalah modal besar perguruan tinggi. Kampus tidak hanya dinilai dari gedung, akreditasi, fasilitas, atau jumlah mahasiswanya. Kampus juga dinilai dari keyakinan masyarakat bahwa proses di dalamnya berlangsung adil. Sekali kepercayaan itu retak, maka yang rusak bukan hanya citra lembaga, tetapi juga kehormatan dunia akademik itu sendiri.

Masuk perguruan tinggi melalui cara yang tidak semestinya mungkin terlihat seperti kemenangan kecil. Tetapi sebenarnya, itu adalah kekalahan moral yang panjang. Seseorang mungkin mendapatkan kursi, tetapi kehilangan kesempatan untuk membangun kebanggaan sejati. Ia mungkin tercatat sebagai mahasiswa, tetapi sejak awal telah dibebani oleh kenyataan bahwa keberhasilannya bukan sepenuhnya lahir dari kemampuan sendiri.

Sebaliknya, mereka yang diterima secara murni melalui proses yang adil akan membawa rasa percaya diri yang berbeda. Ada harga diri yang tumbuh dari perjuangan. Ada tanggung jawab yang lahir dari proses. Ada kebanggaan yang tidak perlu disembunyikan. Mereka masuk bukan karena ditarik oleh tangan tersembunyi, tetapi karena berdiri di atas usaha sendiri.

Di sinilah pentingnya membangun imunitas akademik. Imunitas akademik adalah daya tahan moral dunia pendidikan untuk menolak segala bentuk gratifikasi, titipan, nepotisme, intervensi, dan praktik tidak etis lainnya. Ia bukan hanya soal sistem seleksi yang rapi, tetapi juga soal keberanian moral untuk mengatakan tidak pada cara-cara yang mencederai keadilan.

Imunitas akademik harus dibangun sejak hulu. Orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa keberhasilan anak tidak boleh dibeli dengan cara yang merusak nilai. Calon mahasiswa perlu dididik untuk percaya pada proses, bukan mencari celah. Penyelenggara pendidikan wajib menjaga objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas. Sementara masyarakat perlu berhenti menormalisasi anggapan bahwa semua urusan hanya bisa selesai jika memiliki orang dalam.

Inilah tantangan kita bersama. Kadang yang merusak sistem bukan hanya orang yang meminta bantuan, tetapi juga orang yang merasa bangga karena bisa “membantu” melompati prosedur. Kadang yang melemahkan integritas bukan hanya penerima titipan, tetapi juga lingkungan sosial yang menganggap titipan sebagai hal lumrah.

Padahal, pendidikan yang bermartabat tidak boleh dimulai dari kompromi yang keliru. Kampus adalah tempat menanamkan nilai, bukan tempat pertama kali seseorang belajar bahwa kedekatan bisa mengalahkan aturan. Bila sejak awal mahasiswa diperkenalkan pada cara-cara tidak jujur, bagaimana mungkin kita berharap kelak ia menjadi pemimpin yang lurus?

Natural Tanpa Ordal bukan sekadar slogan. Ini adalah gerakan kesadaran. Gerakan untuk mengembalikan kepercayaan bahwa bangku kuliah harus diperoleh melalui prestasi, bukan privilese; melalui kompetensi, bukan koneksi; melalui integritas, bukan gratifikasi.

Seruan ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga marwah perguruan tinggi bukan hanya tugas kampus. Ini adalah tanggung jawab kolektif. Setiap orang yang menolak titipan sedang ikut menjaga masa depan pendidikan. Setiap orang yang menolak intervensi sedang ikut merawat keadilan. Setiap orang yang memilih jalur jujur sedang ikut membangun generasi yang lebih kuat secara moral.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari siapa yang berhasil masuk, tetapi juga dari bagaimana ia masuk. Sebab proses yang jujur akan melahirkan kebanggaan. Proses yang adil akan menumbuhkan kepercayaan. Dan proses yang bersih akan menjadi fondasi bagi lahirnya pemimpin yang berintegritas.

Pendidikan yang bermartabat selalu dimulai dari pintu yang dijaga dengan kejujuran. Bila pintu itu bersih, maka harapan yang masuk ke dalamnya pun akan tumbuh dengan lebih terhormat.

  • Penulis: Admin Lintas Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelepasan Siswa SDN Sandingtaman 5 Meriah dengan Pentas Seni

    Pelepasan Siswa SDN Sandingtaman 5 Meriah dengan Pentas Seni

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Rahmat Gumilar
    • visibility 107
    • 0Komentar

      CIAMIS, lintasmedia.id. SDN Sandingtaman 5, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, menggelar acara pelepasan siswa kelas VI Tahun Ajaran 2025/2026 dengan penuh khidmat dan meriah. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pentas kreasi seni yang menampilkan berbagai bakat dan kemampuan siswa di hadapan para orang tua, guru, serta tamu undangan. Sebanyak 12 siswa dinyatakan lulus pada tahun ini, […]

  • Wabup Tasikmalaya Apresiasi Penyaluran 3.700 Paket Sembako untuk Warga Rentan

    Wabup Tasikmalaya Apresiasi Penyaluran 3.700 Paket Sembako untuk Warga Rentan

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 48
    • 0Komentar

    TASIKMALAYA, lintasmedia.id. Penyaluran 3.700 paket sembako untuk yatim piatu dan kaum dhuafa di Tasikmalaya tidak sekadar menjadi agenda bakti sosial, tetapi juga mempertegas pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, saat menghadiri langsung kegiatan distribusi bantuan yang digelar di wilayah Kota dan Kabupaten […]

  • 3.700 Paket Sembako untuk Yatim Piatu dan Dhuafa di Tasikmalaya

    3.700 Paket Sembako untuk Yatim Piatu dan Dhuafa di Tasikmalaya

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 38
    • 0Komentar

      TASIKMALAYA, lintasmedia.id Sebanyak 3.700 paket sembako disalurkan kepada yatim piatu dan kaum dhuafa di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya melalui bakti sosial yang digagas Inspektur Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, Sahabat Ryano, Gandara Group 37, bersama Yonif TP 939/Macan Putih. Bantuan berupa paket sembako berisi beras, minyak, gula, dan kebutuhan pokok […]

  • Hari Lahir Pancasila Pamarican Teguhkan Semangat Persatuan Generasi Muda

    Hari Lahir Pancasila Pamarican Teguhkan Semangat Persatuan Generasi Muda

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 50
    • 0Komentar

    CIAMIS, lintasmedia.id. Ribuan peserta memadati Upacara Hari Lahir Pancasila tingkat Kecamatan Pamarican yang digelar di Lapangan Olahraga SMA Negeri 1 Pamarican, Desa Neglasari, Kabupaten Ciamis, Senin (1/6/2026). Upacara berlangsung khidmat dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparatur sipil negara (ASN), guru, perangkat desa, hingga ratusan pelajar dari […]

  • BI Tasikmalaya Hadirkan Edukasi Rupiah Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

    BI Tasikmalaya Hadirkan Edukasi Rupiah Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 30
    • 0Komentar

    TASIKMALAYA, lintasmedia. Komitmen menghadirkan edukasi keuangan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat terus diperkuat Bank Indonesia (BI) Perwakilan Tasikmalaya. Kali ini, program literasi bertajuk Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah menyasar kalangan penyandang disabilitas melalui kegiatan nonton bareng film dokumenter karya disabilitas yang digelar di Gedung Creative Center (GCC) Dadaha, Kota Tasikmalaya, Minggu (14/6/2026). Kegiatan […]

  • Polres Ciamis Bongkar Modus Hibah Rp33 Miliar Berkedok Kiai

    Polres Ciamis Bongkar Modus Hibah Rp33 Miliar Berkedok Kiai

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Renaldy Putra
    • visibility 46
    • 0Komentar

    CIAMIS, lintasmedia.id Kepolisian Resor Polres Ciamis berhasil membongkar kasus penipuan bermodus dana hibah senilai Rp33 miliar yang melibatkan sindikat berkedok tokoh agama. Dalam kasus ini, empat pelaku berhasil diamankan, sementara tiga lainnya masih dalam pengejaran petugas. Kapolres AKBP Hidayatullah mengungkapkan, kasus tersebut bermula dari laporan seorang korban berinisial H. Nanang Kosim Rohmana yang mengaku mengalami […]

expand_less