Wajah Baru Baznas Ciamis dan Tantangan Lima Tahun Mendatang
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Senin, 8 Jun 2026
- visibility 92
- comment 0 komentar
- print Cetak

oplus_0
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Terpilihnya lima komisioner baru Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Ciamis memunculkan harapan besar terhadap keberlanjutan kinerja lembaga pengelola zakat tersebut. Apalagi, selama lima tahun terakhir Baznas Kabupaten Ciamis dinilai berhasil menempatkan diri sebagai salah satu Baznas daerah dengan tata kelola terbaik di Indonesia.
Lima nama yang dipercaya menjadi komisioner Baznas Kabupaten Ciamis periode mendatang terdiri dari KH Lili Miftah, Didin Sa’duddin, KH Wasdi, H. Syarif Nurhidayat, dan Fuad. Dari komposisi tersebut, empat orang memiliki latar belakang kuat di birokrasi pemerintahan, sedangkan satu nama lainnya, yakni Fuad, dikenal sebagai kader muda Muhammadiyah yang relatif lebih muda dibanding anggota lainnya.
Perpaduan antara pengalaman birokrasi, pemahaman keagamaan, dan energi generasi muda dinilai menjadi modal penting untuk menjaga ritme kerja Baznas Ciamis. Selama ini, Baznas Kabupaten Ciamis dikenal bukan hanya aktif dalam penghimpunan zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga mampu membangun sistem administrasi yang rapi serta jaringan pengelolaan zakat hingga tingkat desa.
Tidak sedikit daerah lain yang menjadikan Baznas Ciamis sebagai rujukan dalam penguatan tata kelola kelembagaan. Keberhasilan membangun ekosistem zakat yang masif hingga pelosok desa menjadi salah satu capaian yang mendapat perhatian di tingkat nasional.
Namun, capaian tersebut sekaligus menjadi tantangan besar bagi kepengurusan baru. Ekspektasi publik terhadap Baznas Ciamis kini jauh lebih tinggi dibanding periode sebelumnya. Pengurus baru tidak hanya dituntut mempertahankan prestasi, tetapi juga harus mampu menghadirkan inovasi baru di tengah perubahan sosial dan ekonomi masyarakat.
Salah satu tantangan terbesar adalah meningkatkan kepercayaan publik di era digital. Transparansi pengelolaan dana zakat menjadi kebutuhan mutlak agar masyarakat semakin yakin menyalurkan zakat melalui lembaga resmi. Penguatan sistem digitalisasi pelaporan, layanan pembayaran zakat secara daring, hingga publikasi program secara terbuka menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diperkuat.
Selain itu, Baznas Ciamis juga dihadapkan pada tantangan meningkatnya angka kemiskinan dan ketimpangan ekonomi pascapandemi serta tekanan ekonomi global. Program bantuan konsumtif dinilai tidak lagi cukup. Baznas perlu mendorong lebih banyak program pemberdayaan ekonomi produktif agar mustahik mampu naik kelas menjadi muzaki.

Mampukah wajah baru komisioner Baznas mempertahankan Marwah Baznas?
Di sisi lain, potensi zakat di Kabupaten Ciamis sebenarnya masih sangat besar. Penggalian potensi zakat dari sektor ASN, pengusaha, petani, hingga kalangan profesional muda perlu dilakukan lebih maksimal. Pendekatan kolaboratif dengan pesantren, organisasi masyarakat Islam, dan komunitas lokal juga menjadi langkah penting agar gerakan zakat semakin luas dan menyentuh semua lapisan masyarakat.
Masuknya sosok muda seperti Fuad diharapkan mampu membawa perspektif baru, terutama dalam pendekatan komunikasi kepada generasi muda dan penguatan inovasi digital. Sementara figur senior dengan pengalaman birokrasi diharapkan tetap menjadi penyangga stabilitas kelembagaan dan jaringan koordinasi dengan pemerintah daerah.
Ke depan, masyarakat tentu berharap Baznas Kabupaten Ciamis tidak hanya mempertahankan predikat sebagai lembaga pengelola zakat berprestasi, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan umat. Dengan komposisi pengurus yang dinilai ideal, harapan besar kini berada di pundak lima komisioner baru untuk menjaga marwah sekaligus membawa Baznas Ciamis melangkah lebih maju.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar