SDN 3 Sukanegla Garut Gunakan Bata Plastik Daur Ulang, Jadi Percontohan Sekolah Ramah Lingkungan
- account_circle Renaldy Putra
- calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GARUT, lintasmedia.id.
SDN 3 Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, menjadi percontohan penerapan pembangunan sekolah ramah lingkungan melalui pemanfaatan bata plastik daur ulang sebagai material bangunan ruang kelas baru.
Langkah inovatif tersebut ditandai dengan peletakan bata plastik daur ulang pertama yang dihadiri langsung Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, di lingkungan SDN 3 Sukanegla, Kamis (11/6/2026).
Pembangunan fasilitas pendidikan tersebut mendapat dukungan dari Yayasan Bakti Barito yang memberikan bantuan berupa dua Ruang Kelas Baru (RKB) beserta fasilitas toilet dengan memanfaatkan material ramah lingkungan berbahan dasar sampah plastik daur ulang.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang menghadirkan konsep pembangunan berbasis ekonomi sirkular tersebut. Menurutnya, inovasi ini sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Garut yang mengedepankan aspek keberlanjutan, khususnya di sektor pendidikan.
“Menurut saya, ini adalah sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita inginkan terkait pembangunan di bidang pendidikan,” ujar Syakur.
Ia menjelaskan, dinding ruang kelas baru tersebut dibangun menggunakan material berbahan dasar sampah plastik yang telah didaur ulang dan diolah dengan teknologi modern. Selain menghadirkan sarana pendidikan yang lebih baik, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah.
Syakur berharap inovasi yang digagas Yayasan Bakti Barito dapat memberikan dampak yang lebih luas, tidak hanya bagi dunia pendidikan tetapi juga dalam membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat.
“Saya berharap terobosan yang digagas oleh Bakti Barito memiliki dampak signifikan di bidang pendidikan, sekaligus menjadi contoh nyata bagi masyarakat Garut tentang pentingnya pengelolaan sampah serta kesehatan. Saya juga berharap kerja sama seperti ini bukan hanya di tempat ini saja, melainkan bisa diterapkan di tempat-tempat yang lain,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito, Fifi Pangestu, mengatakan bahwa peletakan bata pertama tersebut membawa misi besar dalam upaya pengurangan sampah plastik dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.
Menurutnya, gedung baru SDN 3 Sukanegla memanfaatkan material hasil daur ulang sampah plastik residu, yakni jenis sampah yang selama ini sulit atau bahkan tidak dapat didaur ulang melalui metode konvensional dan umumnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Hampir seluruh komponen utama bangunan sekolah ini memanfaatkan material hasil daur ulang tersebut, mulai dari panel dinding sebagai pengganti bata konvensional, plafon bangunan, hingga sistem perpipaan air terpadu,” ungkap Fifi.
Ia menegaskan, pemanfaatan sampah residu sebagai material konstruksi membuktikan bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah residu kini dapat menjadi bagian dari solusi. Langkah ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menghadirkan infrastruktur serta fasilitas pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
Program pembangunan sekolah berbahan dasar plastik daur ulang tersebut diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengintegrasikan sektor pendidikan dengan upaya pelestarian lingkungan. Selain mendukung terciptanya fasilitas belajar yang layak, inovasi ini juga menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah yang semakin mendesak di berbagai daerah.
- Penulis: Renaldy Putra

Saat ini belum ada komentar