Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini Publik » Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

  • account_circle Admin Lintas Media
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 

Oleh: Roni Imroni
Kepala Bidang IKP Dishubkominfo Kabupaten Tasikmalaya

Perguruan tinggi bukan sekadar tempat seseorang mengejar gelar akademik. Ia adalah ruang pembentukan ilmu, karakter, nalar, etika, dan kepemimpinan. Dari ruang inilah lahir calon-calon profesional, birokrat, pendidik, pengusaha, pemimpin masyarakat, bahkan pengambil kebijakan publik di masa depan.

Karena itu, proses masuk ke perguruan tinggi tidak boleh dipandang sebagai urusan administratif semata. Penerimaan mahasiswa baru adalah pintu awal yang menentukan marwah dunia akademik. Bila pintu itu dijaga dengan kejujuran, maka kampus akan melahirkan manusia yang percaya pada kemampuan diri. Namun bila pintu itu dibuka oleh titipan, tekanan, kedekatan, atau bantuan orang dalam, maka sejak langkah pertama nilai pendidikan sudah mulai dilukai.

Slogan “Natural Tanpa Ordal” lahir dari kesadaran sederhana, tetapi sangat mendasar: keberhasilan akademik seharusnya ditempuh melalui kemampuan, kerja keras, kesiapan mental, dan prestasi. Bukan melalui jalan belakang. Bukan karena bisikan pihak tertentu. Bukan pula karena akses khusus yang membuat sebagian orang merasa memiliki jalur lebih dekat menuju bangku kuliah.

Seruan ini bukan untuk menyerang siapa pun. Ini adalah ajakan moral untuk semua pihak, baik yang terlibat langsung dalam sistem pendidikan maupun yang berada di luar sistem. Untuk calon mahasiswa, orang tua, penyelenggara pendidikan, pejabat publik, tokoh masyarakat, alumni, hingga siapa pun yang memiliki pengaruh sosial. Sebab integritas akademik tidak hanya dijaga oleh aturan, tetapi juga oleh kesadaran bersama.

Kita perlu jujur melihat kenyataan. Dalam kehidupan sosial, istilah “ordal” atau orang dalam sering dianggap sebagai hal biasa. Bahkan dalam banyak percakapan, ia kadang dibungkus sebagai strategi, peluang, atau bantuan. Padahal, ketika orang dalam digunakan untuk memotong proses, menekan sistem, atau membuka akses yang tidak semestinya, di situlah masalah etik dimulai.

Relasi sosial tentu tidak salah. Silaturahmi tidak salah. Mengenal banyak orang juga bukan dosa. Yang menjadi persoalan adalah ketika kedekatan berubah menjadi alat untuk memperoleh hak yang seharusnya diperebutkan secara adil. Ketika koneksi mengalahkan kompetensi, ketika privilese menggeser prestasi, dan ketika titipan dianggap lebih kuat daripada kemampuan, maka dunia pendidikan sedang kehilangan salah satu fondasi utamanya: kejujuran.

Budaya ordal yang disalahgunakan dapat membuka ruang bagi banyak persoalan serius. Ia bisa menjadi pintu masuk gratifikasi, konflik kepentingan, penyalahgunaan wewenang, dan intervensi terhadap proses seleksi. Lebih jauh dari itu, ia dapat merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.

Kepercayaan publik adalah modal besar perguruan tinggi. Kampus tidak hanya dinilai dari gedung, akreditasi, fasilitas, atau jumlah mahasiswanya. Kampus juga dinilai dari keyakinan masyarakat bahwa proses di dalamnya berlangsung adil. Sekali kepercayaan itu retak, maka yang rusak bukan hanya citra lembaga, tetapi juga kehormatan dunia akademik itu sendiri.

Masuk perguruan tinggi melalui cara yang tidak semestinya mungkin terlihat seperti kemenangan kecil. Tetapi sebenarnya, itu adalah kekalahan moral yang panjang. Seseorang mungkin mendapatkan kursi, tetapi kehilangan kesempatan untuk membangun kebanggaan sejati. Ia mungkin tercatat sebagai mahasiswa, tetapi sejak awal telah dibebani oleh kenyataan bahwa keberhasilannya bukan sepenuhnya lahir dari kemampuan sendiri.

Sebaliknya, mereka yang diterima secara murni melalui proses yang adil akan membawa rasa percaya diri yang berbeda. Ada harga diri yang tumbuh dari perjuangan. Ada tanggung jawab yang lahir dari proses. Ada kebanggaan yang tidak perlu disembunyikan. Mereka masuk bukan karena ditarik oleh tangan tersembunyi, tetapi karena berdiri di atas usaha sendiri.

Di sinilah pentingnya membangun imunitas akademik. Imunitas akademik adalah daya tahan moral dunia pendidikan untuk menolak segala bentuk gratifikasi, titipan, nepotisme, intervensi, dan praktik tidak etis lainnya. Ia bukan hanya soal sistem seleksi yang rapi, tetapi juga soal keberanian moral untuk mengatakan tidak pada cara-cara yang mencederai keadilan.

Imunitas akademik harus dibangun sejak hulu. Orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa keberhasilan anak tidak boleh dibeli dengan cara yang merusak nilai. Calon mahasiswa perlu dididik untuk percaya pada proses, bukan mencari celah. Penyelenggara pendidikan wajib menjaga objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas. Sementara masyarakat perlu berhenti menormalisasi anggapan bahwa semua urusan hanya bisa selesai jika memiliki orang dalam.

Inilah tantangan kita bersama. Kadang yang merusak sistem bukan hanya orang yang meminta bantuan, tetapi juga orang yang merasa bangga karena bisa “membantu” melompati prosedur. Kadang yang melemahkan integritas bukan hanya penerima titipan, tetapi juga lingkungan sosial yang menganggap titipan sebagai hal lumrah.

Padahal, pendidikan yang bermartabat tidak boleh dimulai dari kompromi yang keliru. Kampus adalah tempat menanamkan nilai, bukan tempat pertama kali seseorang belajar bahwa kedekatan bisa mengalahkan aturan. Bila sejak awal mahasiswa diperkenalkan pada cara-cara tidak jujur, bagaimana mungkin kita berharap kelak ia menjadi pemimpin yang lurus?

Natural Tanpa Ordal bukan sekadar slogan. Ini adalah gerakan kesadaran. Gerakan untuk mengembalikan kepercayaan bahwa bangku kuliah harus diperoleh melalui prestasi, bukan privilese; melalui kompetensi, bukan koneksi; melalui integritas, bukan gratifikasi.

Seruan ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga marwah perguruan tinggi bukan hanya tugas kampus. Ini adalah tanggung jawab kolektif. Setiap orang yang menolak titipan sedang ikut menjaga masa depan pendidikan. Setiap orang yang menolak intervensi sedang ikut merawat keadilan. Setiap orang yang memilih jalur jujur sedang ikut membangun generasi yang lebih kuat secara moral.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari siapa yang berhasil masuk, tetapi juga dari bagaimana ia masuk. Sebab proses yang jujur akan melahirkan kebanggaan. Proses yang adil akan menumbuhkan kepercayaan. Dan proses yang bersih akan menjadi fondasi bagi lahirnya pemimpin yang berintegritas.

Pendidikan yang bermartabat selalu dimulai dari pintu yang dijaga dengan kejujuran. Bila pintu itu bersih, maka harapan yang masuk ke dalamnya pun akan tumbuh dengan lebih terhormat.

  • Penulis: Admin Lintas Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tani Merdeka Ciamis Terima Bantuan Hewan Kurban, KH Aos Abdul Azis Sampaikan Terima Kasih

    Tani Merdeka Ciamis Terima Bantuan Hewan Kurban, KH Aos Abdul Azis Sampaikan Terima Kasih

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle M.Renaldy Putra
    • visibility 73
    • 0Komentar

      CIAMIS, lintasmedia.id. Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Ciamis, KH Aos Abdul Azis, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas bantuan hewan kurban yang diberikan pengurus pusat DPP Tani Merdeka Indonesia pada momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Ucapan tersebut disampaikan KH Aos melalui video singkat yang diunggah di media sosial. Dalam keterangannya, ia […]

  • Peduli Sesama, Serdik Sespimma Polri Angkatan 75 Gelar Bakti Sosial di Polres Tasikmalaya

    Peduli Sesama, Serdik Sespimma Polri Angkatan 75 Gelar Bakti Sosial di Polres Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 43
    • 0Komentar

      TASIKMALAYA, lintasmedia.id Wajah Polres Tasikmalaya hari itu beda dari biasanya. Polisi sibuk melayani lansia dan anak anak kecil. Bedanya lagi, polisinya tanpa tanda pangkat. Ternyata mereka merupakan anggota polisi yang tengah menempuh pendidikan sespima. Para serdik ini tergabung dalam Sespimma Polri Angkatan ke-75 Pokjar 1. Mereka menggelar aksi “Peduli Sesama, Wujud Nyata Pengabdian untuk […]

  • Pemkab Pangandaran Percepat Penataan Pantai Barat dan Timur, Targetkan Wisata Lebih Tertata dan Berkelanjutan

    Pemkab Pangandaran Percepat Penataan Pantai Barat dan Timur, Targetkan Wisata Lebih Tertata dan Berkelanjutan

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Admin Lintas Media
    • visibility 65
    • 0Komentar

      BERITA PANGANDARAN, lintasmedia.id. Pemerintah Kabupaten Pangandaran terus mempercepat penataan Pantai Pangandaran, khususnya di kawasan Pantai Barat dan Pantai Timur, sebagai langkah strategis untuk menciptakan destinasi wisata yang lebih tertata, nyaman, bersih, dan berkelanjutan. Program revitalisasi kawasan pesisir tersebut menjadi salah satu prioritas Pemkab Pangandaran dalam mendorong peningkatan kualitas sektor pariwisata yang selama ini menjadi […]

  • Polsek Ciamis Hadiri Kegiatan Ajang Kreativitas Pelepasan Siswa Kelas XII SMAN 1 Ciamis

    Polsek Ciamis Hadiri Kegiatan Ajang Kreativitas Pelepasan Siswa Kelas XII SMAN 1 Ciamis

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 89
    • 0Komentar

      BERITA CIAMIS, lintasmedia.id. Polsek Ciamis Polres Ciamis Polda Jabar menghadiri kegiatan Kokulikuler dan berakhirnya pembelajaran kelas XII berupa ajang kreativitas siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Ciamis. Kegiatan itu berlangsung di Lapangan SMA Negeri 1 Ciamis, Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu, 6 Mei 2026, kemarin. Saat itu, Kapolsek Ciamis Kompol Alan […]

  • Gempa Pangandaran Hari Ini, Magnitudo 3,0 Guncang Laut Barat Daya Pangandaran

    Gempa Pangandaran Hari Ini, Magnitudo 3,0 Guncang Laut Barat Daya Pangandaran

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Bang Sufi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    BERITA PANGANDARAN, lintasmedia.id. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,0 mengguncang wilayah laut barat daya Kabupaten Pangandaran, Minggu (10/5/2026) pukul 09.59 WIB. Gempa tersebut terjadi di wilayah perairan dan dirasakan dalam skala kecil tanpa memicu kepanikan warga. Berdasarkan laporan resmi BMKG⁠�, episentrum gempa berada di koordinat 9,54 Lintang Selatan dan 107,13 Bujur Timur. Lokasinya terdeteksi sekitar 254 […]

  • Wakil Wali Kota Tasikmalaya Buka Kejurkot Bola Voli PBVSI 2026

    Wakil Wali Kota Tasikmalaya Buka Kejurkot Bola Voli PBVSI 2026

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Renaldy Putra
    • visibility 37
    • 0Komentar

    TASIKMALAYA, lintasmedia.id  Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, secara resmi membuka Kejuaraan Kota (Kejurkot) Bola Voli Antar Klub Piala Ketua Umum PBVSI Kota Tasikmalaya Tahun 2026 di GOR Sukapura Dadaha, Sabtu (20/6/2026). Kejuaraan yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti 10 tim terbaik, terdiri dari lima tim putra dan lima tim putri dari berbagai […]

expand_less