Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini Publik » Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

  • account_circle Admin Lintas Media
  • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
  • visibility 72
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 

Oleh: Roni Imroni
Kepala Bidang IKP Dishubkominfo Kabupaten Tasikmalaya

Perguruan tinggi bukan sekadar tempat seseorang mengejar gelar akademik. Ia adalah ruang pembentukan ilmu, karakter, nalar, etika, dan kepemimpinan. Dari ruang inilah lahir calon-calon profesional, birokrat, pendidik, pengusaha, pemimpin masyarakat, bahkan pengambil kebijakan publik di masa depan.

Karena itu, proses masuk ke perguruan tinggi tidak boleh dipandang sebagai urusan administratif semata. Penerimaan mahasiswa baru adalah pintu awal yang menentukan marwah dunia akademik. Bila pintu itu dijaga dengan kejujuran, maka kampus akan melahirkan manusia yang percaya pada kemampuan diri. Namun bila pintu itu dibuka oleh titipan, tekanan, kedekatan, atau bantuan orang dalam, maka sejak langkah pertama nilai pendidikan sudah mulai dilukai.

Slogan “Natural Tanpa Ordal” lahir dari kesadaran sederhana, tetapi sangat mendasar: keberhasilan akademik seharusnya ditempuh melalui kemampuan, kerja keras, kesiapan mental, dan prestasi. Bukan melalui jalan belakang. Bukan karena bisikan pihak tertentu. Bukan pula karena akses khusus yang membuat sebagian orang merasa memiliki jalur lebih dekat menuju bangku kuliah.

Seruan ini bukan untuk menyerang siapa pun. Ini adalah ajakan moral untuk semua pihak, baik yang terlibat langsung dalam sistem pendidikan maupun yang berada di luar sistem. Untuk calon mahasiswa, orang tua, penyelenggara pendidikan, pejabat publik, tokoh masyarakat, alumni, hingga siapa pun yang memiliki pengaruh sosial. Sebab integritas akademik tidak hanya dijaga oleh aturan, tetapi juga oleh kesadaran bersama.

Kita perlu jujur melihat kenyataan. Dalam kehidupan sosial, istilah “ordal” atau orang dalam sering dianggap sebagai hal biasa. Bahkan dalam banyak percakapan, ia kadang dibungkus sebagai strategi, peluang, atau bantuan. Padahal, ketika orang dalam digunakan untuk memotong proses, menekan sistem, atau membuka akses yang tidak semestinya, di situlah masalah etik dimulai.

Relasi sosial tentu tidak salah. Silaturahmi tidak salah. Mengenal banyak orang juga bukan dosa. Yang menjadi persoalan adalah ketika kedekatan berubah menjadi alat untuk memperoleh hak yang seharusnya diperebutkan secara adil. Ketika koneksi mengalahkan kompetensi, ketika privilese menggeser prestasi, dan ketika titipan dianggap lebih kuat daripada kemampuan, maka dunia pendidikan sedang kehilangan salah satu fondasi utamanya: kejujuran.

Budaya ordal yang disalahgunakan dapat membuka ruang bagi banyak persoalan serius. Ia bisa menjadi pintu masuk gratifikasi, konflik kepentingan, penyalahgunaan wewenang, dan intervensi terhadap proses seleksi. Lebih jauh dari itu, ia dapat merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.

Kepercayaan publik adalah modal besar perguruan tinggi. Kampus tidak hanya dinilai dari gedung, akreditasi, fasilitas, atau jumlah mahasiswanya. Kampus juga dinilai dari keyakinan masyarakat bahwa proses di dalamnya berlangsung adil. Sekali kepercayaan itu retak, maka yang rusak bukan hanya citra lembaga, tetapi juga kehormatan dunia akademik itu sendiri.

Masuk perguruan tinggi melalui cara yang tidak semestinya mungkin terlihat seperti kemenangan kecil. Tetapi sebenarnya, itu adalah kekalahan moral yang panjang. Seseorang mungkin mendapatkan kursi, tetapi kehilangan kesempatan untuk membangun kebanggaan sejati. Ia mungkin tercatat sebagai mahasiswa, tetapi sejak awal telah dibebani oleh kenyataan bahwa keberhasilannya bukan sepenuhnya lahir dari kemampuan sendiri.

Sebaliknya, mereka yang diterima secara murni melalui proses yang adil akan membawa rasa percaya diri yang berbeda. Ada harga diri yang tumbuh dari perjuangan. Ada tanggung jawab yang lahir dari proses. Ada kebanggaan yang tidak perlu disembunyikan. Mereka masuk bukan karena ditarik oleh tangan tersembunyi, tetapi karena berdiri di atas usaha sendiri.

Di sinilah pentingnya membangun imunitas akademik. Imunitas akademik adalah daya tahan moral dunia pendidikan untuk menolak segala bentuk gratifikasi, titipan, nepotisme, intervensi, dan praktik tidak etis lainnya. Ia bukan hanya soal sistem seleksi yang rapi, tetapi juga soal keberanian moral untuk mengatakan tidak pada cara-cara yang mencederai keadilan.

Imunitas akademik harus dibangun sejak hulu. Orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa keberhasilan anak tidak boleh dibeli dengan cara yang merusak nilai. Calon mahasiswa perlu dididik untuk percaya pada proses, bukan mencari celah. Penyelenggara pendidikan wajib menjaga objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas. Sementara masyarakat perlu berhenti menormalisasi anggapan bahwa semua urusan hanya bisa selesai jika memiliki orang dalam.

Inilah tantangan kita bersama. Kadang yang merusak sistem bukan hanya orang yang meminta bantuan, tetapi juga orang yang merasa bangga karena bisa “membantu” melompati prosedur. Kadang yang melemahkan integritas bukan hanya penerima titipan, tetapi juga lingkungan sosial yang menganggap titipan sebagai hal lumrah.

Padahal, pendidikan yang bermartabat tidak boleh dimulai dari kompromi yang keliru. Kampus adalah tempat menanamkan nilai, bukan tempat pertama kali seseorang belajar bahwa kedekatan bisa mengalahkan aturan. Bila sejak awal mahasiswa diperkenalkan pada cara-cara tidak jujur, bagaimana mungkin kita berharap kelak ia menjadi pemimpin yang lurus?

Natural Tanpa Ordal bukan sekadar slogan. Ini adalah gerakan kesadaran. Gerakan untuk mengembalikan kepercayaan bahwa bangku kuliah harus diperoleh melalui prestasi, bukan privilese; melalui kompetensi, bukan koneksi; melalui integritas, bukan gratifikasi.

Seruan ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga marwah perguruan tinggi bukan hanya tugas kampus. Ini adalah tanggung jawab kolektif. Setiap orang yang menolak titipan sedang ikut menjaga masa depan pendidikan. Setiap orang yang menolak intervensi sedang ikut merawat keadilan. Setiap orang yang memilih jalur jujur sedang ikut membangun generasi yang lebih kuat secara moral.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari siapa yang berhasil masuk, tetapi juga dari bagaimana ia masuk. Sebab proses yang jujur akan melahirkan kebanggaan. Proses yang adil akan menumbuhkan kepercayaan. Dan proses yang bersih akan menjadi fondasi bagi lahirnya pemimpin yang berintegritas.

Pendidikan yang bermartabat selalu dimulai dari pintu yang dijaga dengan kejujuran. Bila pintu itu bersih, maka harapan yang masuk ke dalamnya pun akan tumbuh dengan lebih terhormat.

  • Penulis: Admin Lintas Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Desa Cisontrol, Warisan Galuh yang Menjaga Sejarah dan Peradaban Islam di Rancah

    Desa Cisontrol, Warisan Galuh yang Menjaga Sejarah dan Peradaban Islam di Rancah

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle Bang Sufi
    • visibility 180
    • 0Komentar

    CIAMIS, lintasmedia.id Desa Cisontrol di Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, menyimpan jejak sejarah panjang yang diyakini berkaitan erat dengan peradaban Tatar Galuh. Desa yang pada 2026 diperkirakan telah berusia sekitar 512 tahun ini tidak hanya dikenal sebagai kawasan agraris, tetapi juga sebagai wilayah yang mewarisi nilai sejarah, budaya, dan keagamaan. Secara etimologis, nama Cisontrol berasal dari […]

  • Polsek Kawali Gencarkan Patroli Dialogis, Warga Diajak Jaga Kamtibmas

    Polsek Kawali Gencarkan Patroli Dialogis, Warga Diajak Jaga Kamtibmas

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 78
    • 0Komentar

      CIAMIS, lintasmedia.id Kehadiran polisi di tengah masyarakat bukan sekadar berpatroli, tetapi juga membangun komunikasi dan rasa aman. Itulah yang dilakukan personel Polsek Kawali, Polres Ciamis, saat menggelar patroli dialogis di sejumlah titik keramaian dan permukiman warga di Kecamatan Kawali, Lumbung, dan Jatinagara, Jumat, 10 Juli 2026. Menggunakan kendaraan dinas, AIPDA Ajat Sudrajat dan BRIPDA […]

  • Bupati Herdiat Tegaskan CSR Perusahaan di Ciamis Harus Kembali untuk Kesejahteraan Warga

    Bupati Herdiat Tegaskan CSR Perusahaan di Ciamis Harus Kembali untuk Kesejahteraan Warga

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Bang Sufi
    • visibility 104
    • 0Komentar

    CIAMIS, lintasmedia.id Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menegaskan setiap perusahaan yang menjalankan usaha dan memperoleh keuntungan di Kabupaten Ciamis sudah semestinya menyalurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) bagi masyarakat setempat. Pernyataan tersebut disampaikan Herdiat saat menghadiri penyaluran 250 paket nutrisi program Indomaret x HealthyWay untuk keluarga penerima manfaat dalam upaya percepatan penanganan stunting di Aula Dinas […]

  • Fatayat NU Kabupaten Ciamis Menyala di Muktamar ke-35 NU Jombang

    Fatayat NU Kabupaten Ciamis Menyala di Muktamar ke-35 NU Jombang

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • account_circle Bang Sufi/Yeyep Arip
    • visibility 96
    • 0Komentar

      JOMBANG, lintasmedia.id. Rombongan Fatayat NU Kabupaten Ciamis turut menyemarakkan pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). Kehadiran kader Fatayat NU Kabupaten Ciamis tidak hanya menjadi bagian dari semarak perhelatan Muktamar ke-35 NU, tetapi juga dimanfaatkan untuk melakukan ziarah dan napak tilas perjuangan para pendiri NU. […]

  • Polemik Jembatan Sukamenak-Wanasigra Mulai Temui Titik Terang, Gubernur Jabar Diminta Fasilitasi Solusi

    Polemik Jembatan Sukamenak-Wanasigra Mulai Temui Titik Terang, Gubernur Jabar Diminta Fasilitasi Solusi

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Bang Sufi
    • visibility 78
    • 0Komentar

    CIAMIS. Lintasmedia.id Polemik akses Jembatan Sukamenak–Wanasigra yang sempat menjadi perhatian Kang Dedi Mulyadi (KDM) saat meninjau lokasi pada Sabtu, 4 Juli 2026, mulai menemukan titik terang. Hasil koordinasi para pemangku kepentingan menunjukkan bahwa tidak pernah terjadi penutupan akses secara sepihak oleh Pemerintah Desa Wanasigra. Camat Sindangkasih, Amin Mabruri, menjelaskan, akses jembatan hanya dipasang penghalang sementara […]

  • Nyiar Lumar Kawali: Mencari Cahaya dari Jejak Sejarah Galuh

    Nyiar Lumar Kawali: Mencari Cahaya dari Jejak Sejarah Galuh

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 48
    • 0Komentar

    CIAMIS, lintasmedia.id   Malam di Kawali, Kabupaten Ciamis, memiliki cerita tersendiri. Di tengah suasana gelap yang perlahan diterangi cahaya obor, masyarakat berjalan menuju Situs Astana Gede. Langkah demi langkah seolah membawa mereka menelusuri kembali jejak sejarah dan kebudayaan Sunda yang tersimpan di kawasan bekas pusat Kerajaan Galuh. Dari perjalanan itulah lahir sebuah tradisi bernama Nyiar […]

expand_less