Harga Telur dan Ayam Hidup Anjlok, Peternak Rakyat di Priangan Timur Merugi, GOPAN Desak Pemerintah Bertindak
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Senin, 29 Jun 2026
- visibility 40
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, lintasmedia.id
Penurunan harga telur ayam ras dan ayam hidup di tingkat peternak dalam beberapa pekan terakhir menjadi pukulan berat bagi peternak rakyat di wilayah Priangan Timur. Meski kondisi tersebut menguntungkan konsumen, peternak justru harus menanggung kerugian karena harga jual tidak mampu menutupi biaya produksi.
Koordinator Wilayah Garda Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Priangan Timur, H. Kuswara Suwarman, M.Sc, mengatakan harga telur dan ayam hidup terus mengalami penurunan, sementara harga pakan serta kebutuhan produksi lainnya masih bertahan tinggi.
Akibatnya, banyak peternak ayam petelur maupun ayam pedaging kesulitan menjaga keberlangsungan usahanya.
“Peternak rakyat saat ini berada dalam kondisi yang sangat berat. Harga jual terus turun, tetapi biaya produksi tidak ikut turun. Banyak peternak yang menjual hasil ternaknya di bawah Harga Pokok Produksi (HPP),” ujarnya, Senin (29/6/2026).
Menurut Kuswara, untuk peternak ayam petelur, biaya produksi telur diperkirakan berada pada kisaran Rp24.000 hingga Rp25.500 per kilogram, bergantung pada harga pakan dan produktivitas ayam. Sementara harga jual di tingkat peternak dalam beberapa waktu terakhir hanya berkisar Rp20.000–Rp22.000 per kilogram.
Dengan kondisi tersebut, peternak diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram telur yang dijual. Bagi peternak dengan populasi 5.000 ekor ayam yang menghasilkan sekitar 250 kilogram telur per hari, kerugian dapat mencapai Rp750 ribu hingga Rp1,25 juta setiap hari.
Kondisi serupa juga dialami peternak ayam pedaging yang menghadapi harga jual ayam hidup di bawah biaya produksi, sehingga margin usaha semakin tertekan.
Kuswara menilai stabilitas harga pangan memang penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, menurutnya, kebijakan tersebut juga harus memperhatikan keberlangsungan usaha peternak rakyat sebagai salah satu penopang ketahanan pangan nasional.
“Kami memahami masyarakat membutuhkan harga pangan yang terjangkau. Tetapi jangan sampai harga murah justru membuat peternak rakyat menjadi korban dan akhirnya gulung tikar,” katanya.

GOPAN Priangan Timur meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret melalui pengaturan tata niaga perunggasan, pengendalian harga pakan, pengawasan keseimbangan produksi dan permintaan, serta kebijakan stabilisasi harga yang berpihak kepada peternak.
Selain itu, pola kemitraan antara perusahaan dan peternak rakyat juga dinilai perlu diperkuat agar lebih adil dan memberikan kepastian usaha.
“Kami berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sektor perunggasan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya peternak yang terdampak, tetapi juga ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang,” tegasnya.
GOPAN Priangan Timur menegaskan akan terus memperjuangkan aspirasi peternak rakyat serta siap bersinergi dengan pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan industri perunggasan yang sehat, berkeadilan, dan berkelanjutan.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar