Saat Perbedaan Menjadi Jembatan, Tali Kasih Lintas Iman Menghangatkan Ciamis
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 31
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, lintasmedia.id
Minggu pagi, 28 Juni 2026, Kompleks Gereja Santo Yohanes Pembaptis Ciamis dipenuhi senyum dan sapaan hangat. Tidak ada sekat agama, suku, ataupun latar belakang. Yang tampak hanyalah tangan-tangan yang saling menyapa dan hati yang sama-sama ingin berbagi.
Melalui kegiatan Baksos Lintas Iman Ciamis bertajuk “Berbagi Tali Kasih”, masyarakat dari berbagai komunitas berkumpul dalam semangat kepedulian. Kegiatan yang digagas Durian Kujang bersama Komunitas Peduli Sosial Ciamis itu menjadi bukti bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya di atas segala perbedaan.
Bantuan yang disalurkan memang memiliki nilai materi. Namun, yang jauh lebih berharga adalah pesan yang dibawanya: persaudaraan tidak pernah dibatasi oleh keyakinan.
Di tengah suasana penuh keakraban, Ketua Majelis Adat Galuh Raya, Rd. H. Wahyu, mengingatkan bahwa tanah Galuh sejak dahulu mewariskan nilai welas asih sebagai fondasi kehidupan bersama. Nilai itu, menurutnya, harus terus dijaga agar tidak pudar di tengah perubahan zaman.
Ia mengibaratkan kasih sayang seperti matahari yang memancarkan cahaya tanpa memilih siapa yang akan disinari.
“Hari ini saya bersyukur dapat bersilaturahmi dengan Romo dan jemaat Gereja Santo Yohanes. Saya belajar dari alam, di mana matahari selalu memberikan cahayanya kepada semua makhluk tanpa membedakan siapa pun,” ujarnya.
Baginya, manusia pun semestinya meneladani alam. Perbedaan agama, suku, maupun ras bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan menguatkan.
Ia berharap semangat saling mengasihi terus tumbuh di tengah masyarakat Ciamis, sehingga kehidupan yang damai dan harmonis dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan sederhana itu akhirnya meninggalkan pesan yang mendalam. Ketika kasih sayang menjadi bahasa bersama, tembok-tembok perbedaan perlahan runtuh. Yang tersisa hanyalah rasa kemanusiaan, gotong royong, dan keyakinan bahwa Ciamis akan selalu kuat selama warganya terus merawat tali kasih antarsesama.
Di tanah Galuh, persaudaraan bukan sekadar slogan. Ia hidup dalam tindakan nyata, tumbuh dari kepedulian, dan dirawat oleh hati-hati yang percaya bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar