Belajar Bersahabat dengan Rasa, Ngalungsur Pusaka Indung dari Ambu Ani Nyai Tangulun
- account_circle Ki Aan
- calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
- visibility 54
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GARUT, lintasmedia.id
Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang serba cepat, ketika amarah kerap meledak hanya karena perbedaan pendapat dan media sosial menjadi ruang pelampiasan emosi, lahir sebuah pesan yang sederhana tetapi penuh makna dari Ambu Ani atau Nyai Tangulun, Limbangan, Kabupaten Garut.
Melalui karya berjudul “Belajar Bersahabat dengan Rasa”, Ambu Ani mengajak masyarakat kembali menapaki jalan kebijaksanaan yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya Sunda. Pesan itu merupakan bagian dari semangat Ngalungsur Pusaka Indung, sebuah ikhtiar untuk merawat warisan spiritual, budaya, dan karakter yang diwariskan seorang ibu kepada generasi penerus.
Bagi Ambu Ani, pusaka bukan hanya benda peninggalan leluhur. Pusaka sejati adalah nilai kehidupan yang membentuk akhlak, kesabaran, serta kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan.
Pesan itu tergambar jelas melalui kalimat pembuka karyanya, “Meredam emosi, menjaga pusaka.” Kalimat sederhana tersebut mengandung makna bahwa ujian terberat dalam kehidupan bukanlah mengangkat beban yang berat, melainkan menahan ucapan ketika amarah sedang memuncak. Sebab, satu kalimat yang lahir dari emosi sesaat dapat meruntuhkan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Ambu Ani mengingatkan bahwa manusia tidak mungkin terlepas dari rasa marah. Namun, yang membedakan seseorang adalah kemampuannya mengelola emosi. Orang yang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah marah, melainkan mereka yang mampu berkata kepada dirinya sendiri, “Tahan dulu, pikir dulu.”
Pandangan tersebut selaras dengan pemikiran yang menyebut bahwa mengendalikan amarah merupakan salah satu bentuk kebajikan tertinggi. Marah adalah sifat manusiawi, tetapi mengelolanya secara tepat menjadi tanda kedewasaan dan kebijaksanaan.
Hal serupa juga dikemukakan . Dalam konsep kecerdasan emosional, kemampuan mengenali, memahami, dan mengendalikan emosi menjadi fondasi penting bagi kepemimpinan, hubungan sosial, serta keberhasilan seseorang dalam kehidupan.
Dalam pemaknaan Ngalungsur Pusaka Indung, Ambu Ani mewariskan dua nilai utama yang patut dijaga.
Pertama, belajar menerima saran. Menurutnya, pribadi yang bijaksana tidak merasa direndahkan ketika menerima kritik. Sebaliknya, ia menjadikan setiap masukan sebagai jalan memperbaiki diri. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah pula hatinya.
Kedua, bertahan pada titik yang benar. Kehidupan selalu menghadirkan tekanan, kepentingan, dan godaan yang dapat menggoyahkan prinsip. Namun, seseorang yang memiliki pusaka karakter akan tetap berdiri di atas kebenaran, meski harus berjalan sendirian.
Nilai tersebut sejalan dengan ajaran yang menekankan bahwa pribadi luhur selalu memperbaiki dirinya sebelum menyalahkan orang lain.
Bagi Ambu Ani, pusaka yang paling berharga bukanlah keris, tombak, atau benda pusaka lainnya. Warisan yang sesungguhnya adalah karakter yang diwariskan seorang ibu kepada anak-anaknya, berupa kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan keteguhan hati.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menjaga tiga kekuatan hidup, yakni tetap tenang saat emosi sebagai lambang kekuatan, terbuka terhadap kritik sebagai wujud kebijaksanaan, serta teguh memegang kebenaran sebagai cermin karakter.
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak, nilai-nilai tersebut justru semakin relevan. Ketika banyak orang berlomba memenangkan perdebatan, Ambu Ani mengajak masyarakat memenangkan diri sendiri. Ketika banyak orang sibuk mencari kesalahan orang lain, ia mengingatkan pentingnya memperbaiki hati terlebih dahulu.
Melalui “Belajar Bersahabat dengan Rasa”, Ambu Ani atau Nyai Tangulun tidak sekadar menulis sebuah renungan. Ia sedang menghidupkan kembali warisan budaya Sunda yang menempatkan kasih sayang, kesabaran, dan kebijaksanaan sebagai pusaka paling berharga yang layak dijaga serta diwariskan kepada generasi mendatang.
- Penulis: Ki Aan
- Editor: Renaldy Putra

Saat ini belum ada komentar