Urang Sunda Lain Kudu Ngadago Zaman, Tapi Kudu Memeres Zaman
- account_circle Ki Acep Aan
- calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Ki Acep Aan
Pemerhati Seni Budaya dan Situs Sejarah Priangan Timur
Menafsir Wangsit untuk Masa Depan Bangsa
Ada sebuah ungkapan atau wangsit yang menarik untuk direnungkan dalam konteks kehidupan bangsa dan negara saat ini:
“Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyoren kaneron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngelingan nu keur paroho. Tapi heunteu diwaro, da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Ari arinyana teu arengeuh, langit geus semu beureum, haseup ngebul dina pirunan. Boro-boro rék ngawaro, malah budak janggotan ku arinyana ditewak diasupkeun ka pangberokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majar rék neangan musuh, padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.”
Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai gambaran perjalanan suatu bangsa ketika suara peringatan tidak lagi didengar oleh penguasa. Ia juga dapat dibaca sebagai pesan moral agar masyarakat tidak hanya menunggu datangnya zaman yang lebih baik, tetapi berani mempersiapkan dan membentuk masa depannya sendiri.
Siapa “Budak Janggotan”?
“Budak janggotan” merupakan simbol yang menarik. Budak berarti seseorang yang masih muda atau belum banyak pengalaman, sedangkan janggotan menggambarkan kematangan dan pengalaman.
Dalam konteks kekinian, “budak janggotan” dapat dimaknai sebagai generasi baru yang memiliki keberanian, pengetahuan, serta kemampuan membaca perubahan zaman. Mereka bisa hadir dalam bentuk aktivis, organisasi masyarakat, lembaga adat, akademisi, budayawan, maupun kelompok anak muda yang kritis terhadap kebijakan publik.
Sementara itu, “sajamang hideung bari nyoren kaneron butut” dapat dimaknai sebagai perjuangan yang sederhana. Tidak selalu memiliki kekuatan materi, fasilitas, bahkan dukungan politik, tetapi mempunyai keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Karena itu, masyarakat Sunda tidak seharusnya hanya menunggu munculnya sosok “budak janggotan”. Generasi tersebut harus dididik, dipersiapkan, dan dilahirkan melalui proses pendidikan serta penguatan kebudayaan.
Ketika Peringatan Tidak Lagi Didengar
Bagian berikutnya menggambarkan keadaan ketika orang-orang yang berkuasa tidak mengindahkan peringatan.
“Langit geus semu beureum” dapat dimaknai sebagai tanda datangnya situasi yang mengkhawatirkan. Sumber pangan semakin terdesak, lahan pertanian beralih fungsi, lingkungan rusak, sementara ketergantungan terhadap kekuatan ekonomi dari luar negeri semakin besar.
“Haseup ngebul dina pirunan” pun dapat ditafsirkan sebagai tanda bahwa persoalan sudah semakin nyata. Namun, berbagai peringatan justru dianggap sebagai kritik berlebihan, hoaks, atau gangguan terhadap pemerintah.
Dalam kondisi seperti itu, kritik yang sehat semestinya tidak dipandang sebagai musuh. Kritik merupakan bagian penting dari demokrasi karena berfungsi mengingatkan penguasa agar tidak kehilangan arah dalam menjalankan amanah rakyat.
Jangan Menunggu Ratu Adil
Persoalan yang lebih penting adalah kebiasaan masyarakat menunggu datangnya tokoh penyelamat.
Sebagian orang Sunda masih mengenal gagasan tentang “budak angon”, “budak janggotan”, atau “ratu adil” sebagai simbol munculnya pemimpin yang akan membawa perubahan.
Namun, zaman tidak selalu menghadirkan perubahan melalui seorang tokoh.
Perubahan harus diusahakan.
Karena itu, tugas generasi sekarang adalah mempersiapkan generasi yang memiliki ilmu pengetahuan, keberanian, karakter, dan kesadaran budaya. Anak muda harus diperkenalkan kembali kepada naskah-naskah kuno, prasasti, sejarah Pajajaran, nilai-nilai Sunda, serta gagasan tata kehidupan masyarakat masa lalu.
Naskah kuno perlu diteliti, dialihaksarakan, diterjemahkan, dan ditafsirkan secara ilmiah. Hasil penelitian tersebut harus dipublikasikan melalui media massa, pendidikan, dan berbagai ruang kebudayaan agar pengetahuan masa lalu tidak berhenti di lemari arsip.
Membangun “Pajajaran Anyar”
Gagasan tentang “Pajajaran Anyar” tidak harus dipahami sebagai upaya menghidupkan kembali kerajaan secara harfiah. Ia dapat dimaknai sebagai cita-cita membangun tatanan masyarakat yang berakar pada nilai budaya, memiliki pemerintahan yang kuat, mandiri, adil, dan mampu melindungi kepentingan rakyat.
Pajajaran Anyar harus dibangun sesuai zaman.
Gunakan akal dan pikiran untuk memahami warisan masa lalu, kemudian mengambil nilai-nilai terbaiknya untuk menjawab persoalan masa kini.
Dengan demikian, masyarakat Sunda tidak sekadar menjadi penonton perubahan zaman. Sunda harus menjadi bagian dari kekuatan yang ikut menentukan arah perubahan tersebut.
Menguatkan Budaya untuk Memperkuat Indonesia
Sunda merupakan salah satu kelompok budaya besar di Indonesia. Karena itu, melemahnya eksistensi budaya Sunda bukan hanya persoalan lokal, tetapi juga berpotensi mengurangi kekuatan kebudayaan nasional.
Indonesia memiliki kekuatan karena keberagamannya. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika akan semakin kokoh apabila setiap kebudayaan daerah memiliki akar yang kuat dan mampu hidup sekaligus menghidupkan masyarakat pendukungnya.
Dalam konteks tersebut, lembaga-lembaga negara yang memiliki fungsi representasi daerah perlu memberikan ruang yang lebih kuat bagi pengembangan kebudayaan lokal. Setiap daerah harus memiliki kesempatan menjaga, mengembangkan, dan mewariskan identitas budayanya.
Jika keragaman budaya kuat, Indonesia akan menjadi “kalung jamrud khatulistiwa” yang tidak hanya indah secara alamiah, tetapi juga kaya secara peradaban.
Sebaliknya, apabila budaya daerah dibiarkan melemah, maka identitas nasional pun ikut kehilangan salah satu fondasinya.
Karena itu, pesan utama dari ungkapan tersebut sederhana: urang Sunda lain kudu ngadago zaman, tapi kudu memeres zaman.
Jangan hanya menunggu perubahan. Persiapkan manusia yang mampu menghadapi perubahan, rawat kebudayaan, kuasai ilmu pengetahuan, dan bangun masa depan dengan keberanian.
Sela Gedang, Desa Pakalongan, Tasikmalaya, Agustus 2026.
- Penulis: Ki Acep Aan

Saat ini belum ada komentar