Lingga Yoni Gunung Payung Diduga Dirusak, Jejak Sejarah Leluhur Terancam Hilang
- account_circle Ki Acep Aan
- calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
- visibility 72
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TASIKMALAYA, LINTASMEDIA.ID
Kabar dugaan perusakan Lingga Yoni di kawasan Situs Gunung Payung, Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, mengejutkan para pemerhati sejarah dan situs budaya Priangan Timur.
Situs Gunung Payung bukan sekadar kawasan perbukitan. Di tempat ini tersimpan jejak sejarah leluhur yang diyakini memiliki hubungan dengan perjalanan peradaban masa lalu di wilayah Priangan Timur.
Terletak di Kampung Awi Luar, Desa Sirnajaya, Situs Gunung Payung memiliki kawasan sekitar 18 hektare dengan ketinggian kurang lebih 1.047 meter di atas permukaan laut. Kawasan tersebut berbatasan langsung dengan Desa Nagaratengah, wilayah yang diyakini sebagian masyarakat memiliki keterkaitan dengan jejak Kerajaan Gara Tengah pada masa silam.
Keberadaan Situs Gunung Payung juga dipercaya memiliki nilai historis yang berkaitan dengan Kebataraan Galunggung dan Kerajaan Galuh. Karena itu, kawasan tersebut menjadi salah satu ruang penting untuk menelusuri perjalanan sejarah, budaya, dan peradaban masyarakat di masa lalu.
Namun, nilai sejarah yang tersimpan di kawasan itu kini kembali menjadi perhatian setelah muncul kabar dugaan perusakan terhadap Lingga Yoni yang berada di kawasan Gunung Payung.
Pemerhati situs dan sejarah Priangan Timur, Ki Acep Aan, mengaku terkejut menerima informasi tersebut. Ia mengenang kunjungannya ke Situs Gunung Payung beberapa tahun lalu sebagai sebuah perjalanan yang sarat dengan nilai sejarah dan refleksi terhadap perjalanan bangsa.
“Jejak tadabur alam ke Situs Cagar Budaya Gunung Payung sekitar tahun 2020 masih terkenang. Tempat itu sarat dengan sejarah masa lalu dan juga perjuangan kemerdekaan. Saat itu saya bersama Kang Dedi Karang Layung,” ujar Ki Acep Aan, Rabu, 2 September 2026.
Ia mengaku prihatin setelah mendapat kabar adanya dugaan perusakan terhadap Lingga Yoni di kawasan tersebut.
“Hari ini saya dikejutkan dengan kabar adanya perusakan Lingga Yoni yang berada di kawasan Gunung Payung. Harapan saya, pihak dinas terkait dan aparat berwenang segera mengusut kejadian tersebut,” katanya.
Menurut Ki Acep Aan, keberadaan situs sejarah harus dipandang sebagai warisan bersama yang tidak hanya memiliki nilai fisik, tetapi juga mengandung nilai budaya, spiritual, dan identitas masyarakat.
Merawat situs bersejarah berarti menjaga keaslian benda dan kawasan, melindungi nilai budaya yang terkandung di dalamnya, serta mempertahankan jejak peradaban agar tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
Perusakan terhadap benda atau situs yang memiliki nilai sejarah dan budaya, menurutnya, tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa. Warisan leluhur yang telah bertahan selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad dapat hilang hanya karena tindakan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab.
Karena itu, dugaan perusakan Lingga Yoni di Gunung Payung diharapkan mendapat perhatian serius dari pemerintah, instansi terkait, serta aparat penegak hukum. Selain pengusutan terhadap dugaan perusakan, perlindungan dan pengawasan terhadap kawasan situs juga dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Gunung Payung menyimpan cerita masa lalu. Di antara pepohonan dan bentang alamnya, terdapat jejak leluhur yang menjadi pengingat bahwa sebuah peradaban tidak lahir tanpa sejarah.
Menjaga situs berarti menjaga ingatan. Merawat warisan leluhur berarti memastikan generasi masa depan masih memiliki jejak untuk mengenali asal-usul dan perjalanan bangsanya.
- Penulis: Ki Acep Aan

Saat ini belum ada komentar