Jejak Sunan Dago Jawa di Tasikmalaya dan Benang Merah Sultan Hadiwijaya
- account_circle Ki Acep Aan
- calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
- visibility 65
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TASIKMALAYA, LINTASMEDIA.ID
Sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan megah atau prasasti yang mudah dibaca. Terkadang, sejarah bersemayam dalam makam tua, cerita turun-temurun, doa yang dipanjatkan, serta ingatan masyarakat yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Di Kampung Padarek, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, terdapat sebuah makam yang diyakini masyarakat sebagai tempat peristirahatan terakhir Pangeran Kusumadiningrat atau yang dikenal dengan sebutan Sunan Dago Jawa.
Keberadaan makam tersebut menjadi bagian dari jejak sejarah dan spiritual masyarakat setempat. Bagi warga, tempat itu bukan sekadar situs pemakaman, melainkan ruang untuk mengenang leluhur serta merawat nilai-nilai yang diwariskan dari masa lalu.
Pemerhati sejarah, Acep Aan, S.Ag., yang juga berasal dari keluarga besar Rd. Ali Santana Sukapura Cisayong, menuturkan bahwa terdapat benang merah sejarah yang dipercaya menghubungkan Sunan Dago Jawa dengan tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam di Jawa, termasuk Sunan Benawa dan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.
Menurut tradisi dan silsilah yang berkembang di lingkungan masyarakat setempat, Pangeran Kusumadiningrat diyakini memiliki keterkaitan nasab dengan tokoh-tokoh tersebut.
“Sejarah adalah cara kita mengenali akar. Kita memang tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat merawat nilai-nilai dan penghormatan kepada para leluhur,” ujar Acep Aan, Senin, 1 September 2026.
Upaya merawat ingatan sejarah itu masih terlihat hingga kini. Haul Sunan Dago Jawa yang digelar masyarakat Kampung Padarek beberapa waktu lalu berlangsung dengan khidmat.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Nangerang, tokoh masyarakat, pelestari makam, serta sejumlah tamu dari luar daerah. Warga pun mengikuti rangkaian haul dengan penuh kegembiraan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Menurut Kepala Desa Nangerang dan Asep, salah seorang pelestari makam, terdapat keyakinan yang berkembang di masyarakat mengenai keterhubungan silsilah Sunan Dago Jawa dengan Sunan Benawa serta Sultan Hadiwijaya.
Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir dikenal dalam sejarah Jawa sebagai pendiri Kesultanan Pajang. Ia memimpin Pajang setelah runtuhnya kekuasaan Demak dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik serta penyebaran Islam di tanah Jawa.
Dalam berbagai tradisi babad Jawa, Jaka Tingkir juga dikenal dengan nama Mas Karebet. Sosoknya dikaitkan dengan sejumlah tokoh penting pada masa transisi kekuasaan Demak menuju Pajang.
Namun, berbagai versi mengenai silsilah Jaka Tingkir berkembang dalam sumber sejarah, babad, dan tradisi lisan. Karena itu, penelusuran hubungan nasab antara tokoh-tokoh tersebut membutuhkan kajian sejarah, manuskrip, serta sumber-sumber primer yang lebih mendalam.
Bagi masyarakat di Kampung Padarek, perdebatan mengenai silsilah tidak mengurangi makna keberadaan makam Sunan Dago Jawa sebagai bagian dari warisan sejarah lokal.
Merawat makam, menyelenggarakan haul, dan mengenang para leluhur menjadi cara masyarakat menjaga hubungan dengan masa lalu.
Sejarah, pada akhirnya, bukan sekadar kumpulan angka dan tahun. Sejarah adalah denyut kehidupan yang pernah ada dan jejak kebajikan yang masih dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Berabad-abad setelah para leluhur membangun peradaban, jejak mereka mungkin tidak lagi berdiri dalam bentuk kerajaan atau bangunan megah. Namun, doa, penghormatan, dan nilai kebajikan yang diwariskan tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Seperti pepatah yang kerap diucapkan masyarakat Sunda, setinggi apa pun bangau terbang, pada akhirnya ia akan kembali singgah di tempat yang menyimpan akar sejarahnya.
Makam Sunan Dago Jawa di Kampung Padarek, Cigalontang, menjadi salah satu ruang tempat masyarakat Tasikmalaya kembali menengok akar tersebut.
Di sanalah, antara makam tua, doa-doa haul, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, benang merah sejarah terus dicari dan dirawat.
Penulis: Acep Aan, S.Ag.
Pemerhati Sejarah dan Keluarga Besar Rd. Ali Santana Sukapura Cisayong, Tasikmalaya
- Penulis: Ki Acep Aan

Saat ini belum ada komentar