Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini Publik » Urang Sunda Lain Kudu Ngadago Zaman, Tapi Kudu Memeres Zaman

Urang Sunda Lain Kudu Ngadago Zaman, Tapi Kudu Memeres Zaman

  • account_circle Ki Acep Aan
  • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
  • visibility 42
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Ki Acep Aan
Pemerhati Seni Budaya dan Situs Sejarah Priangan Timur

Menafsir Wangsit untuk Masa Depan Bangsa

Ada sebuah ungkapan atau wangsit yang menarik untuk direnungkan dalam konteks kehidupan bangsa dan negara saat ini:

“Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyoren kaneron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngelingan nu keur paroho. Tapi heunteu diwaro, da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Ari arinyana teu arengeuh, langit geus semu beureum, haseup ngebul dina pirunan. Boro-boro rék ngawaro, malah budak janggotan ku arinyana ditewak diasupkeun ka pangberokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majar rék neangan musuh, padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.”

Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai gambaran perjalanan suatu bangsa ketika suara peringatan tidak lagi didengar oleh penguasa. Ia juga dapat dibaca sebagai pesan moral agar masyarakat tidak hanya menunggu datangnya zaman yang lebih baik, tetapi berani mempersiapkan dan membentuk masa depannya sendiri.

Siapa “Budak Janggotan”?

“Budak janggotan” merupakan simbol yang menarik. Budak berarti seseorang yang masih muda atau belum banyak pengalaman, sedangkan janggotan menggambarkan kematangan dan pengalaman.

Dalam konteks kekinian, “budak janggotan” dapat dimaknai sebagai generasi baru yang memiliki keberanian, pengetahuan, serta kemampuan membaca perubahan zaman. Mereka bisa hadir dalam bentuk aktivis, organisasi masyarakat, lembaga adat, akademisi, budayawan, maupun kelompok anak muda yang kritis terhadap kebijakan publik.

Sementara itu, “sajamang hideung bari nyoren kaneron butut” dapat dimaknai sebagai perjuangan yang sederhana. Tidak selalu memiliki kekuatan materi, fasilitas, bahkan dukungan politik, tetapi mempunyai keberanian untuk menyampaikan kebenaran.

Karena itu, masyarakat Sunda tidak seharusnya hanya menunggu munculnya sosok “budak janggotan”. Generasi tersebut harus dididik, dipersiapkan, dan dilahirkan melalui proses pendidikan serta penguatan kebudayaan.

Ketika Peringatan Tidak Lagi Didengar

Bagian berikutnya menggambarkan keadaan ketika orang-orang yang berkuasa tidak mengindahkan peringatan.

“Langit geus semu beureum” dapat dimaknai sebagai tanda datangnya situasi yang mengkhawatirkan. Sumber pangan semakin terdesak, lahan pertanian beralih fungsi, lingkungan rusak, sementara ketergantungan terhadap kekuatan ekonomi dari luar negeri semakin besar.

“Haseup ngebul dina pirunan” pun dapat ditafsirkan sebagai tanda bahwa persoalan sudah semakin nyata. Namun, berbagai peringatan justru dianggap sebagai kritik berlebihan, hoaks, atau gangguan terhadap pemerintah.

Dalam kondisi seperti itu, kritik yang sehat semestinya tidak dipandang sebagai musuh. Kritik merupakan bagian penting dari demokrasi karena berfungsi mengingatkan penguasa agar tidak kehilangan arah dalam menjalankan amanah rakyat.

Jangan Menunggu Ratu Adil

Persoalan yang lebih penting adalah kebiasaan masyarakat menunggu datangnya tokoh penyelamat.

Sebagian orang Sunda masih mengenal gagasan tentang “budak angon”, “budak janggotan”, atau “ratu adil” sebagai simbol munculnya pemimpin yang akan membawa perubahan.

Namun, zaman tidak selalu menghadirkan perubahan melalui seorang tokoh.

Perubahan harus diusahakan.

Karena itu, tugas generasi sekarang adalah mempersiapkan generasi yang memiliki ilmu pengetahuan, keberanian, karakter, dan kesadaran budaya. Anak muda harus diperkenalkan kembali kepada naskah-naskah kuno, prasasti, sejarah Pajajaran, nilai-nilai Sunda, serta gagasan tata kehidupan masyarakat masa lalu.

Naskah kuno perlu diteliti, dialihaksarakan, diterjemahkan, dan ditafsirkan secara ilmiah. Hasil penelitian tersebut harus dipublikasikan melalui media massa, pendidikan, dan berbagai ruang kebudayaan agar pengetahuan masa lalu tidak berhenti di lemari arsip.

Membangun “Pajajaran Anyar”

Gagasan tentang “Pajajaran Anyar” tidak harus dipahami sebagai upaya menghidupkan kembali kerajaan secara harfiah. Ia dapat dimaknai sebagai cita-cita membangun tatanan masyarakat yang berakar pada nilai budaya, memiliki pemerintahan yang kuat, mandiri, adil, dan mampu melindungi kepentingan rakyat.

Pajajaran Anyar harus dibangun sesuai zaman.

Gunakan akal dan pikiran untuk memahami warisan masa lalu, kemudian mengambil nilai-nilai terbaiknya untuk menjawab persoalan masa kini.

Dengan demikian, masyarakat Sunda tidak sekadar menjadi penonton perubahan zaman. Sunda harus menjadi bagian dari kekuatan yang ikut menentukan arah perubahan tersebut.

Menguatkan Budaya untuk Memperkuat Indonesia

Sunda merupakan salah satu kelompok budaya besar di Indonesia. Karena itu, melemahnya eksistensi budaya Sunda bukan hanya persoalan lokal, tetapi juga berpotensi mengurangi kekuatan kebudayaan nasional.

Indonesia memiliki kekuatan karena keberagamannya. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika akan semakin kokoh apabila setiap kebudayaan daerah memiliki akar yang kuat dan mampu hidup sekaligus menghidupkan masyarakat pendukungnya.

Dalam konteks tersebut, lembaga-lembaga negara yang memiliki fungsi representasi daerah perlu memberikan ruang yang lebih kuat bagi pengembangan kebudayaan lokal. Setiap daerah harus memiliki kesempatan menjaga, mengembangkan, dan mewariskan identitas budayanya.

Jika keragaman budaya kuat, Indonesia akan menjadi “kalung jamrud khatulistiwa” yang tidak hanya indah secara alamiah, tetapi juga kaya secara peradaban.

Sebaliknya, apabila budaya daerah dibiarkan melemah, maka identitas nasional pun ikut kehilangan salah satu fondasinya.

Karena itu, pesan utama dari ungkapan tersebut sederhana: urang Sunda lain kudu ngadago zaman, tapi kudu memeres zaman.

Jangan hanya menunggu perubahan. Persiapkan manusia yang mampu menghadapi perubahan, rawat kebudayaan, kuasai ilmu pengetahuan, dan bangun masa depan dengan keberanian.

Sela Gedang, Desa Pakalongan, Tasikmalaya, Agustus 2026.

  • Penulis: Ki Acep Aan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Herdiat Tegaskan CSR Perusahaan di Ciamis Harus Kembali untuk Kesejahteraan Warga

    Bupati Herdiat Tegaskan CSR Perusahaan di Ciamis Harus Kembali untuk Kesejahteraan Warga

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Bang Sufi
    • visibility 105
    • 0Komentar

    CIAMIS, lintasmedia.id Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menegaskan setiap perusahaan yang menjalankan usaha dan memperoleh keuntungan di Kabupaten Ciamis sudah semestinya menyalurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) bagi masyarakat setempat. Pernyataan tersebut disampaikan Herdiat saat menghadiri penyaluran 250 paket nutrisi program Indomaret x HealthyWay untuk keluarga penerima manfaat dalam upaya percepatan penanganan stunting di Aula Dinas […]

  • Polsek Kawali Tingkatkan Patroli Dialogis, Perkuat Kehadiran Polri Jaga Keamanan Masyarakat

    Polsek Kawali Tingkatkan Patroli Dialogis, Perkuat Kehadiran Polri Jaga Keamanan Masyarakat

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 49
    • 0Komentar

    CIAMIS, lintasmedia.id Polsek Kawali Polres Ciamis Polda Jawa Barat terus meningkatkan kegiatan Patroli Dialogis sebagai langkah preventif dalam menjaga dan memelihara keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas). Kehadiran personel kepolisian di sejumlah objek vital dan pusat aktivitas masyarakat menjadi bentuk nyata komitmen Polri dalam mencegah potensi gangguan keamanan sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat. Kegiatan dilaksanakan […]

  • Sukwan Kota Tasikmalaya Tagih Janji, Ini Masalahnya

    Sukwan Kota Tasikmalaya Tagih Janji, Ini Masalahnya

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Yeyep Arip
    • visibility 95
    • 0Komentar

    TASIKMALAYA, lintasmedia.id. Ratusan petugas kebersihan berstatus sukwan di Kota Tasikmalaya menagih janji reward yang pernah disampaikan pejabat Dinas Lingkungan Hidup saat apel pagi dan pelepasan kegiatan pungut sampah, Senin (19/5/2026). Sebanyak 116 petugas sukwan berkumpul di Bale Wiwitan, Jalan Noenoeng Tisnasaputra, Kota Tasikmalaya. Awalnya kegiatan berlangsung seperti apel rutin biasa. Namun suasana berubah ketika para […]

  • Reses Tina Wiryawati Serap Aspirasi Infrastruktur, Posyandu, Banjir dan Kekeringan Ciamis

    Reses Tina Wiryawati Serap Aspirasi Infrastruktur, Posyandu, Banjir dan Kekeringan Ciamis

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Renaldy Putra
    • visibility 93
    • 0Komentar

    CIAMIS, lintasmedia.id. Persoalan infrastruktur desa, kesejahteraan kader Posyandu, hingga ancaman banjir dan kekeringan menjadi aspirasi utama yang disampaikan masyarakat saat reses Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Gerindra, Hj. Tina Wiryawati, di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis. Kegiatan reses Tahun Anggaran 2026 tersebut menjadi wadah bagi warga untuk menyampaikan kebutuhan yang selama ini dirasakan langsung […]

  • 269 Atlet Tasikmalaya Jalani Tes Fisik Perdana, KONI Resmi Kick Off Porprov Jabar 2026

    269 Atlet Tasikmalaya Jalani Tes Fisik Perdana, KONI Resmi Kick Off Porprov Jabar 2026

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Admin Lintas Media
    • visibility 118
    • 0Komentar

    ¯ TASIKMALAYA, lintasmedia.id. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Tasikmalaya resmi memulai persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2026. Sebanyak 269 atlet yang telah lolos seleksi mengikuti tes fisik perdana usai Kick Off Porprov yang digelar di Kantor KONI Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (13/6/2026). Ketua KONI Kabupaten Tasikmalaya, R. Erry Purwanto, mengatakan kegiatan tersebut […]

  • Berbuat Kebajikan kepada Sesama Manusia

    Berbuat Kebajikan kepada Sesama Manusia

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Ki Acep Aan
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Oleh: Acep Aan, S.Ag. Pemerhati Sosial dan Budaya Priangan Timur Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari keberadaan orang lain. Kita hidup berdampingan, saling membutuhkan, saling menguatkan, dan dalam banyak keadaan saling menjadi tempat untuk berbagi. Karena itu, berbuat baik kepada sesama bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral sebagai manusia. Kasih sayang kepada […]

expand_less