Jembatan 18 Meter di Rimau Sungsang Banyuasin Diresmikan, Anak Sekolah Tak Lagi Naik Perahu
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026
- visibility 43
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMATERA SELATAN, lintasmedia.id
Akses pendidikan dan aktivitas masyarakat di Desa Rimau Sungsang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, kini semakin mudah. Sebuah jembatan sepanjang 18 meter yang dibangun untuk menghubungkan akses warga resmi digunakan setelah diresmikan Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, Minggu (23/8/2026).
Jembatan tersebut menjadi salah satu dari tiga jembatan yang dibangun menggunakan dana pribadi Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banyuasin, H. Suriadi. Pembangunan infrastruktur itu dilatarbelakangi kondisi warga, terutama anak-anak sekolah, yang sebelumnya harus menggunakan perahu untuk menuju sekolah.
Kondisi tersebut membuat perjalanan anak-anak menuju sekolah membutuhkan waktu dan perhatian lebih. Selain persoalan akses, penggunaan perahu juga dinilai memiliki risiko keselamatan, terutama ketika kondisi cuaca dan perairan tidak mendukung.
Dengan adanya jembatan, warga kini memiliki akses darat yang lebih mudah untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Peresmian tiga jembatan tersebut dihadiri Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Medi Ahmadzoni bersama jajaran pengurus, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumatera Selatan Syarifuddin, Ketua DPC Gerindra H. Slamet, pengurus DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banyuasin, serta sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat.
Don Muzakir: Jembatan Bukan Sekadar Penghubung
Don Muzakir mengatakan, pembangunan jembatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Menurutnya, persoalan akses masih menjadi tantangan bagi sebagian warga di wilayah pedesaan.
“Jembatan ini sangat berarti bagi masyarakat. Saya melihat sendiri bagaimana akses menjadi persoalan bagi warga, terutama anak-anak sekolah,” kata Don Muzakir.
Ia menilai keberadaan infrastruktur yang memadai memiliki dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Jembatan tidak hanya mempermudah mobilitas anak-anak menuju sekolah, tetapi juga membantu warga dalam menjalankan kegiatan ekonomi.
“Kalau aksesnya mudah, aktivitas masyarakat juga lebih mudah. Anak-anak bisa pergi ke sekolah dengan lebih aman, sementara warga bisa menjalankan kegiatan sehari-hari tanpa harus bergantung pada kapal atau perahu,” ujarnya.
Don Muzakir menambahkan, pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan membutuhkan perhatian bersama. Pemerintah dan masyarakat, menurutnya, dapat saling melengkapi dalam menyelesaikan persoalan yang ditemukan di lapangan.
Temui Petani Banyuasin
Selain meresmikan jembatan, Don Muzakir juga bertemu dengan sejumlah petani di Kabupaten Banyuasin. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk menyerap secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat sektor pertanian.
Dalam kesempatan itu, pembahasan tidak hanya berkaitan dengan produksi pertanian, tetapi juga program pemerintah yang berkaitan dengan pertanian dan penguatan ekonomi masyarakat desa.
“Kami datang bukan hanya untuk meresmikan jembatan. Kami juga ingin mendengar langsung apa yang dirasakan petani dan menyampaikan program pemerintah yang bisa membantu mereka,” katanya.
Don Muzakir mengatakan, berbagai aspirasi yang disampaikan petani akan menjadi bahan masukan untuk pemerintah. Ia menilai persoalan masyarakat harus diketahui secara langsung agar kebijakan dan program pemerintah dapat lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Saya juga akan menyampaikan kebutuhan warga kepada pemerintah pusat. Apa yang kami lihat dan dengar di lapangan harus menjadi masukan untuk pemerintah,” ujarnya.
Dibangun karena Anak Sekolah Harus Naik Perahu
Sementara itu, H. Suriadi mengatakan pembangunan tiga jembatan tersebut berawal dari keprihatinannya terhadap anak-anak yang harus menggunakan perahu untuk pergi ke sekolah.
“Saya kasihan melihat anak-anak sekolah. Kalau mau ke sekolah, mereka harus naik kapal atau perahu. Risikonya besar. Jarak sekolah sekitar tiga kilometer kalau tidak ada jembatan penghubung,” kata Suriadi.
Kondisi tersebut kemudian mendorong Suriadi menggunakan dana pribadi untuk membangun jembatan. Ia berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan seluruh masyarakat tanpa membedakan kelompok maupun kepentingan tertentu.
“Jembatan ini kami bangun agar anak-anak tidak lagi kesulitan pergi ke sekolah. Kami juga berharap warga bisa menggunakan dan merawatnya bersama-sama,” ujarnya.
Keberadaan jembatan di Desa Rimau Sungsang menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dasar memiliki kaitan erat dengan pendidikan dan perekonomian masyarakat. Akses yang lebih baik dapat memudahkan anak-anak bersekolah sekaligus membantu warga bekerja, berdagang, dan membawa hasil pertanian.
Tani Merdeka Indonesia menyatakan akan terus menyerap aspirasi masyarakat di berbagai daerah. Berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan akan disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan masukan dalam mendorong pemenuhan kebutuhan masyarakat di tingkat desa.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar