Nyangku Panjalu Jadi Warisan Budaya Bangsa, Bupati Ciamis: Wajib Kita Jaga dan Lestarikan
- account_circle Rahmat Gumilar
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 62
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, LINTASMEDIA.ID
Ribuan masyarakat memadati kawasan Panjalu, Kabupaten Ciamis, ketika tradisi leluhur kembali menemukan denyutnya. Di tengah suasana khidmat dan semarak, Upacara Adat Nyangku kembali digelar sebagai bagian dari warisan budaya yang telah dijaga masyarakat Panjalu secara turun-temurun.
Tradisi Nyangku yang dilaksanakan pada momentum bulan Rabiulawal, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar agenda tahunan. Bagi masyarakat Panjalu, Nyangku merupakan ruang perjumpaan antara sejarah, spiritualitas, budaya, dan ikatan kebersamaan yang diwariskan para leluhur.
Rangkaian Upacara Adat Nyangku tahun ini turut dihadiri Bupati Ciamis H. Herdiat Sunarya bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Ciamis. Tokoh masyarakat, tokoh adat, budayawan, unsur pemerintahan, hingga tamu undangan turut menyaksikan salah satu tradisi budaya terbesar di Kabupaten Ciamis tersebut.
Bagi Herdiat, Nyangku memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sebuah ritual adat.
Di hadapan masyarakat Panjalu, ia menegaskan bahwa tradisi tersebut merupakan warisan budaya luhur yang menyimpan nilai sejarah, spiritualitas, gotong royong, serta kearifan lokal yang harus terus dirawat.
“Tradisi Nyangku merupakan warisan budaya luhur sekaligus sarana untuk merawat kearifan lokal dan memperteguh silaturahmi antarmasyarakat,” ujar Herdiat.
Keberadaan Nyangku, kata dia, tidak hanya penting bagi masyarakat Panjalu. Tradisi tersebut kini telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia setelah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Pengakuan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Ciamis. Namun, di balik kebanggaan tersebut tersimpan tanggung jawab besar untuk memastikan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi itu tidak hilang ditelan perubahan zaman.
“Artinya, Upacara Adat Nyangku di Panjalu bukan hanya milik masyarakat setempat, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa yang memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia,” katanya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, pesan tersebut terasa semakin relevan. Nyangku menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus membuat masyarakat menjauh dari akar budayanya. Justru dari tradisi, generasi muda dapat belajar mengenali identitas, sejarah, dan nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakatnya.
Herdiat pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan Nyangku. Ia menilai perubahan zaman tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan warisan leluhur.
“Wajib kita jaga dan lestarikan agar dapat terus diwariskan kepada anak cucu kita kelak,” tegasnya.
Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada panitia, tokoh adat, masyarakat Panjalu, serta seluruh pihak yang selama ini menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Menurutnya, Nyangku dapat terus hidup hingga saat ini karena adanya semangat gotong royong yang kuat di tengah masyarakat.
Setiap tahun, Nyangku bukan hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga momentum berkumpulnya masyarakat. Tradisi itu mempererat silaturahmi, mempertemukan generasi tua dan muda, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat luas untuk mengenal kekayaan budaya Panjalu.
Dengan nilai luhur yang terus dijaga, Upacara Adat Nyangku diharapkan tetap menjadi identitas budaya masyarakat Panjalu sekaligus daya tarik wisata budaya Kabupaten Ciamis.
Di tengah keramaian ribuan masyarakat yang hadir, Nyangku kembali mengingatkan bahwa warisan leluhur bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah jejak yang harus terus dirawat, agar tetap menjadi cahaya bagi generasi yang akan datang.
- Penulis: Rahmat Gumilar

Saat ini belum ada komentar