Kanaya Whulan, Vokalis Emka 9 dan Penyanyi Andalan KDM, Meninggal Dunia
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG, LINTASMEDIA.ID
Kabar duka menyelimuti dunia musik dan seni Jawa Barat. Penyanyi Kanaya Whulan meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Minggu, 13 September 2026, setelah berjuang melawan penyakit kanker.
Kabar meninggalnya Kanaya disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melalui media sosial. Dedi menyampaikan belasungkawa sekaligus meminta masyarakat mendoakan almarhumah.
Kepergian Kanaya meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang yang selama ini mengenal kiprahnya di panggung seni Jawa Barat. Sosoknya dikenal sebagai penyanyi yang kerap mengisi berbagai kegiatan bersama Emka 9, grup musik yang berada dalam lingkaran kegiatan seni dan kebudayaan Dedi Mulyadi.
Salah satu penampilan terakhir Kanaya yang mendapat perhatian terjadi pada rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jawa Barat, 17 Agustus 2026.
Saat itu, Kanaya tampil dalam kirab dari Gedung Pakuan menuju Gedung Sate. Mengenakan busana bergaya veteran dan berada di atas kereta kencana, ia membawakan lagu legendaris karya Ismail Marzuki, “Melati di Tapal Batas”.
Penampilan tersebut kini menjadi salah satu kenangan terakhir Kanaya di hadapan publik.
Sejak bergabung dengan Emka 9 pada 2019, Kanaya tidak hanya tampil sebagai penyanyi panggung. Ia juga menjadi bagian dari berbagai agenda kebudayaan dan kegiatan kedinasan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Suara Kanaya turut menghidupkan sejumlah lagu yang diciptakan Dedi Mulyadi, di antaranya “Rindu Purnama”, “Karembong Koneng”, “Prabu Siliwangi”, “Dangiang Galuh Pakuan”, “Indung”, hingga “Memanen Cinta”.
Kehadirannya membuat lagu-lagu bernuansa Sunda tersebut memperoleh warna tersendiri ketika dibawakan di berbagai panggung.
Bagi masyarakat Jawa Barat, Kanaya bukan sekadar seorang penyanyi. Ia menjadi bagian dari perjalanan seni dan budaya yang dalam beberapa tahun terakhir kerap hadir dalam berbagai kegiatan daerah.
Kini panggung itu kehilangan salah satu suaranya.
Dedi Mulyadi menyampaikan doa agar Kanaya mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT serta diampuni segala dosa dan kesalahannya.
Kepergian Kanaya juga menjadi pengingat bahwa panggung kehidupan memiliki waktunya sendiri. Ada saat seorang seniman hadir dengan suara, senyum, dan karya, kemudian meninggalkan kenangan yang terus hidup setelah dirinya tidak lagi berada di atas panggung.
Selamat jalan, Kanaya Whulan. Suaramu mungkin telah berhenti di dunia, tetapi kenangan dan karya yang pernah kau lantunkan akan tetap menjadi bagian dari ingatan banyak orang.
Semoga almarhumah husnulkhatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar