Haul Sunan Dago Djawa di Tasikmalaya, Merawat Jejak Leluhur dan Mempererat Silaturahmi Trah Sukapura
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TASIKMALAYA, lintasmedia.id
Di balik sejuknya perbukitan Desa Nanggerang, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, tersimpan sebuah tempat yang tak hanya menjadi tujuan ziarah, tetapi juga ruang untuk mengenang jasa para leluhur.
Di kompleks makam keramat Eyang Pangeran Kusumahdiningrat atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Dago Djawa, ratusan peziarah berkumpul dalam Haul ke-7 yang digelar pada Rabu malam, 30 Juni 2026.
Usai salat Magrib, lantunan doa, tawasul, dan zikir mengiringi suasana khidmat di area makam. Warga Kampung Padarek, tamu dari berbagai daerah, serta keturunan Trah Sukapura larut dalam kebersamaan. Rangkaian acara kemudian berlanjut di lapangan desa dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, salawat, sambutan, hingga tausiah yang disampaikan Dr. KH. Anwar Nasori.
Bagi masyarakat setempat, haul bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi ini menjadi pengingat akan perjalanan sejarah Sunan Dago Djawa yang diyakini sebagai salah seorang leluhur Sukapura. Dari garis keturunannya lahir tokoh-tokoh penting, termasuk Kanjeng Dalem Rd. Wirawangsa atau Dalem Wiradadaha I, Bupati Sukapura pertama.
Di antara para tamu yang hadir, tampak Ki Acep Aan, S.Ag., dari Keluarga Besar Rd. Ali Santana Cisayong. Ia menegaskan kehadirannya murni sebagai tamu sekaligus bagian dari keluarga besar Trah Sukapura, bukan mewakili yayasan mana pun.
Menurutnya, semangat menjaga warisan leluhur harus dibarengi dengan penataan pengelolaan aset dan kawasan makam secara profesional. Ia berharap persoalan penetapan juru pelihara makam maupun penyusunan bagan silsilah keturunan Sunan Dago Djawa dapat diselesaikan melalui musyawarah yang bijaksana bersama pihak yayasan terkait.
“Saya hadir dalam posisi netral. Yang terpenting adalah menjaga silaturahmi dan menghormati para karuhun. Semoga seluruh pihak dapat bersama-sama merawat warisan sejarah ini demi generasi mendatang,” ujar Ki Acep Aan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Asep Ridwan, Elan, Ketua RW, seluruh warga Kampung Padarek, serta para donatur yang selama ini bergotong royong merawat makam dan menyukseskan pelaksanaan haul, termasuk santunan bagi anak yatim piatu.
Baginya, kekuatan sebuah tradisi tidak hanya terletak pada kemeriahan acara, melainkan pada kepedulian masyarakat dalam menjaga nilai-nilai sejarah, persaudaraan, dan gotong royong. Dari makam sederhana di kaki perbukitan Cigalontang, pesan itu terus hidup, menghubungkan masa lalu dengan masa depan melalui ikatan silaturahmi yang tetap terjaga.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar