Menyapa Ingatan Masa Lalu Bersama KDM 2018
- account_circle Ki Acep Aan
- calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
- visibility 50
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh Ki Acep Aan
Kenangan tentang perjalanan Kang Dedi Mulyadi atau KDM dalam menggelar kegiatan seni dan budaya kembali dikenang Ki Acep Aan, pemerhati seni budaya dan situs sejarah Priangan Timur. Salah satu momen yang masih melekat dalam ingatannya terjadi pada 2018.
Saat itu, kegiatan Gelar Seni Budaya yang diwadahi Dangiang Galuh Pakuan-MK 9 menghadirkan berbagai pertunjukan seni untuk menghibur masyarakat. Kang Ohang juga turut tampil di atas panggung sehingga suasana semakin meriah dan membuat masyarakat bergembira.
Ki Acep Aan mengaku ikut membantu memediasi rencana kegiatan tersebut melalui pengajuan surat resmi kepada Bupati Purwakarta saat itu, Kang Dedi Mulyadi, serta pihak manajemen Dangiang Galuh Pakuan di Purwakarta.
Pendekatan juga dilakukan kepada sejumlah kepala desa. Di antaranya Kepala Desa Tawang Banteng, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya; Kepala Desa Rajadatu, Kecamatan Cineam; dan Kepala Desa Cisayong, Kecamatan Cisayong.
Menurut Ki Acep Aan, setelah tujuan kegiatan dijelaskan kepada para kepala desa, mereka dapat memahami dan mendukung pelaksanaannya. Gelar seni budaya kemudian digelar di Lapangan Desa Tawang Banteng, Lapangan Desa Rajadatu, serta Lapangan Desa Cisayong.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias masyarakat. Ratusan warga dari berbagai usia, mulai dari orang tua, generasi muda hingga anak-anak, hadir menyaksikan pertunjukan.
Pesan yang disampaikan Kang Dedi saat itu tidak hanya berkaitan dengan seni budaya. Ia juga mengangkat pentingnya membangun desa, menata kota, menjaga lingkungan, serta meningkatkan pelayanan dasar agar makna kemerdekaan benar-benar dirasakan masyarakat.
Konsep silih asah, silih asih, dan silih asuh juga menjadi bagian dari pesan kemanusiaan. Kepedulian terhadap masyarakat kecil diwujudkan melalui santunan kepada warga yang membutuhkan, termasuk anak yatim dan penyandang disabilitas.
Dalam ingatan Ki Acep Aan, Kang Dedi juga memiliki perhatian kuat terhadap lingkungan. Ia menyampaikan bahwa menjaga alam merupakan kewajiban moral yang penting bagi kehidupan manusia.
Kerusakan lingkungan, mulai dari hutan gundul, pencemaran sungai hingga permukiman yang menutup kawasan resapan, menurut pandangan tersebut dapat menjadi pemicu berbagai bencana. Karena itu, hubungan spiritual antara manusia dan alam harus terus dijaga.
Pesan menjaga kabuyutan dan amanat karuhun pun menjadi bagian dari pertemuan Kang Dedi dengan tokoh adat, ulama, guru, serta generasi muda. Manusia yang merusak alam, pada hakikatnya, dinilai sedang merusak kehidupan dirinya sendiri.
Ki Acep Aan juga mengenang perjalanan karier politik Kang Dedi, mulai dari anggota DPRD Purwakarta pada 1999–2003, Wakil Bupati Purwakarta pada 2008–2018, anggota DPR RI periode 2019–2024, hingga memenangkan Pilgub Jawa Barat 2024 dan kemudian menjabat Gubernur Jawa Barat periode 2025–2030.
Ia mengaku pernah melihat langsung proses pembangunan Situ Buleud di pusat Kota Purwakarta. Bahkan, ada pengalaman ketika Kang Dedi memintanya beristirahat di hotel karena kondisi tertentu.
Hal lain yang membekas adalah kebiasaan Kang Dedi turun langsung ke tengah masyarakat. Saat masih menjabat bupati, ia disebut masih sering melakukan blusukan hingga malam hari untuk menemui warga di pelosok.
Pertemuan terakhir Ki Acep Aan dengan Kang Dedi berlangsung di Dadaha, Tasikmalaya, menjelang Pilgub Jawa Barat 2024.
Kini, Kang Dedi Mulyadi mengemban amanah sebagai Gubernur Jawa Barat. Ki Acep Aan berharap pengalaman dan kepedulian terhadap masyarakat serta lingkungan yang pernah dilihatnya dapat terus dipertahankan.
“Semoga beliau tetap amanah, tetap menyayangi masyarakat kecil, dan mampu membawa Jawa Barat menuju karahayuan,” harap Ki Acep Aan.
Tulisan ini ditutup dari Tutugan Galunggung, Jumat, 14 Agustus 2026, sebagai catatan kenangan sekaligus refleksi perjalanan seorang tokoh dalam mengabdi kepada masyarakat.
Penulis adalah Warga
Tutugan Galunggung
Pemerhati Seni Budaya Situs Sejarah Priangan Timur
- Penulis: Ki Acep Aan

Saat ini belum ada komentar