Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur Berjuang Bertahan di Tengah Biaya Produksi
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
- visibility 74
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, lintasmedia.id
Di kandang-kandang ayam petelur, suara ribuan ayam yang berebut pakan masih terdengar seperti biasa. Telur terus diproduksi setiap hari tanpa mengenal hari libur. Namun, di balik rutinitas itu, banyak peternak justru dihantui kecemasan karena harga jual telur kembali merosot.
Data PINSAR Indonesia per 3 Juli 2026 menunjukkan harga telur curah di tingkat peternak di sebagian besar Pulau Jawa hanya berada pada kisaran Rp19.200 hingga Rp22.000 per kilogram. Blitar, yang dikenal sebagai salah satu sentra ayam petelur terbesar di Indonesia, bahkan mencatat harga terendah, yakni Rp19.200–19.500 per kilogram. Malang berada di kisaran Rp19.700–19.900, sedangkan Madiun dan Bojonegoro sekitar Rp20.500 per kilogram.
Di Jawa Barat, harga relatif lebih baik, yakni Rp21.800–22.500 per kilogram. Sementara Jawa Tengah berada di kisaran Rp20.800–21.500 per kilogram. Angka tersebut masih jauh dari harapan sebagian peternak, terutama jika dibandingkan dengan tingginya biaya produksi.
Bagi peternak ayam petelur, harga pakan menjadi komponen biaya terbesar. Jagung, bungkil kedelai, konsentrat, vitamin, hingga biaya listrik, tenaga kerja, dan perawatan kandang terus menyerap sebagian besar modal usaha.
Ketika harga telur turun hingga mendekati Rp20 ribu per kilogram, margin keuntungan menjadi sangat tipis, bahkan tidak sedikit peternak yang mengaku hanya mampu menutup biaya operasional.
Ironisnya, kondisi ini terjadi ketika produksi telur nasional masih cukup tinggi.
Melimpahnya pasokan di sejumlah sentra produksi membuat harga di tingkat peternak tertekan. Di sisi lain, permintaan masyarakat belum mengalami peningkatan yang signifikan sehingga keseimbangan pasar belum sepenuhnya pulih.
Perbedaan harga juga terlihat mencolok di luar Pulau Jawa. Di Kalimantan, harga telur berkisar Rp24.000–28.000 per kilogram, sedangkan di Nusa Tenggara Timur mencapai Rp30.000 per kilogram. Harga tertinggi tercatat di Maluku Utara yang menyentuh Rp33.000 per kilogram. Tingginya ongkos distribusi dan terbatasnya pasokan menjadi salah satu penyebab selisih harga antardaerah.
Bagi peternak, harga yang ideal bukan sekadar tinggi, melainkan stabil. Kepastian harga akan membantu mereka menyusun perencanaan usaha, menjaga kualitas produksi, serta memastikan pasokan telur bagi masyarakat tetap tersedia.
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang paling terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Karena itu, menjaga keberlangsungan usaha peternak ayam petelur sama artinya dengan menjaga ketahanan pangan nasional.
Ketika harga terus berada di bawah titik yang menguntungkan, yang dipertaruhkan bukan hanya pendapatan peternak, tetapi juga keberlanjutan produksi telur di masa mendatang.
Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional Korwil Priangan Timur, Ir H.Kuswara Suwarman, M.Sc, mengatakan, masih ada menjual di angka Rp 20.000. Situasi ini harus menjadi perhatian para stakeholder kebijakan di negara ini.
“Negara harus hadir untuk memberikan solusi terbaik kepada para peternak ayam petelur yang kini mengalami kerugian,” ujarnya.**
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar