Warisan Tatar Galuh Berdiri di Atas Tiga Pondasi, Ang Icep: Budaya dan Islam Harus Harmonis
- account_circle Bang Sufi
- calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
- visibility 61
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS, lintasmedia.id
Menjelang pelantikan Wawakil Raja Galuh, Raden Rafik Radinal, yang digelar pada Sabtu (8/8/2026), keluarga besar Radinal Mohtar menggelar santunan yatim piatu dan tausyiah, Jumat, (7/8/2026) di Pendopo Keraton Selaggangga Ciamis. Acara diawali dengan pembacaan Surat Al Mulk dan tawasul, kemudian dilanjutkan dengan tausyiah oleh Pengasuh Pesantren Darussalam, KH Dr Fadlil Yani Ainusyamsi yang juga akrab disapa Ang Icep. Usai tausyiah diteruskan dengan pembagian santunan yatim piatu santri Pesantren Darussalam.
Calon Wawakil Raja Galuh, Raden Rafik Radinal mengatakan, kegiatan santunan yatim dan doa bersama dimaksudkan untuk memberikan dukungan agar kegiatan pelantikan Wawakil Raja Galuh berjalan lancar dan direstui para leluhur Galuh.
“Tapi intinya adalah kami ingin membuka kembali perjalanan sejarah Galuh dalam bingkai keislaman. Islam dan Galuh sejak awal telah disatukan menjadi jiwa raga yang harmonis. Para leluhur Galuh tidak pernah membenturkan budaya dan Islam. Kami berharap momentum kali ini memperkuat pondasi keyakinan bahwa bicara Galuh tak selalu harus diframing non Islam,” ujar Raden Rafik.
Dalam tausiyahnya, Ang Icep menyampaikan catatan dari Ayahandanya KH Irfan Hielmi yang mencatat bahwa nilai-nilai luhur Tatar Galuh dibangun di atas tiga pondasi utama yang hingga kini tetap relevan sebagai pedoman kehidupan masyarakat. Ang Icep kemudian mengulas filosofi kepemimpinan dan warisan budaya Galuh.
“Peradaban Galuh sejak dahulu ditata dengan tiga landasan utama, yakni keluhuran budi, kearifan lokal (local wisdom), dan welas asih. Ketiga nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang beradab, harmonis, serta menjunjung tinggi kehormatan,” ujarnya.
Ang Icep menegaskan Galuh dibangun dengan keluhuran budi, kearifan lokal, welas asih dan akidah yang lurus. Itulah nilai yang menjaga martabat masyarakat Galuh.
Ia menuturkan, meskipun zaman terus berubah, masih banyak pihak yang tetap menjaga warisan para leluhur. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam falsafah Sunda, yaitu silih asih, silih asah, dan silih asuh, yang mengajarkan kasih sayang, saling mencerdaskan, dan saling membimbing dalam kehidupan bermasyarakat.
Ang Icep menjelaskan, pada masa Kerajaan Galuh, seorang raja tidak hanya berperan sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi juga menjadi pemersatu seluruh rakyat. Kepemimpinan yang baik diwujudkan melalui kemampuan merangkul seluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan harmoni dan persatuan.
Selain itu, ia menegaskan bahwa pembangunan generasi penerus tidak cukup hanya mengutamakan kecerdasan intelektual. Pendidikan akhlak, pembentukan karakter, dan penguatan kepribadian harus menjadi perhatian utama agar lahir generasi yang memiliki integritas.
“Generasi yang cerdas harus dibarengi dengan akhlak yang baik, karakter yang kuat, dan kepribadian yang luhur,” katanya.

Dalam pandangannya, budaya Sunda di Tatar Galuh juga tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai Islam. Keduanya harus berjalan selaras sehingga budaya menjadi sarana memperkuat ajaran agama, bukan sebaliknya.
“Tatar Galuh tidak boleh menjauhkan agama dari masyarakat Sunda. Budaya dan syariat Islam harus berjalan harmonis sebagai kekuatan dalam membangun peradaban,” tegasnya.
Ia berharap nilai-nilai luhur warisan Galuh tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas budaya sekaligus pedoman dalam menghadapi tantangan zaman.
Dengan tetap berpegang pada keluhuran budi, kearifan lokal, dan semangat welas asih, masyarakat Tatar Galuh diharapkan mampu mempertahankan jati diri serta membangun kehidupan yang rukun, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
- Penulis: Bang Sufi

Saat ini belum ada komentar