Telepon Terakhir, dan Kang Dadan pun Berpulang
- account_circle Admin Lintas Media
- calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
- visibility 77
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dadan Firdaus Helmi, S.Ag bukan sekedar Kabag Langganan di Perumdam Tirta Galuh, bagi kami ia juga kakak senior para alumni IAIN. Dia satu-satunya sarjana agama yang mampu menjadi sosok penting di perusahaan air minum di Kabupaten Ciamis. Tidak ada permasalahan yang tidak bisa dikomunikasikan, ia sosok yang merangkul dan adaptif dengan berbagai perubahan masyarakat.
Kami bukan hanya urusan pekerjaan, sebulan sekali kami mengaji bersama membedah ilmu tasawuf. Ia sangat gelisah dan merasa ibadahnya kering karena itu ia mengajak mencari guru Mursyid untuk mentalqin zikir. Hubungan kami sudah bukan pemberitaan tapi lintas batas kemanusiaan. Kami menyelami luasnya dunia spiritual dengan pemahaman yang berbeda.
Kang Dadan dibesarkan dalam tradisi keilmuan agama yang tekstual. Ia hanya memahami Islam yang bersumber dari Qur’an dan Hadist. Khazanah pemikiran tasawuf kurang dipelajari karena tasawuf itu ranah abu-abu. Tapi setahun sebelum meninggal, kami bersama Kang Dadan menelusuri jejak sufi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
“Saya hanya ingin merasakan manisnya berzikir dan tenang menghadapi kematian. Saya ingin rasa sakit ini menjadi wasilah penghapus dosa. Saya berzikir bukan meminta kesembuhan tapi minta dikuatkan dalam menghadapi ujian sakit,” ujarnya saat hadir di acara Sinau Bareng di Pesantren Riyadhus Sholawat Cipaku.
Kami menghabiskan waktu diskusi di kantor PDAM dan yang sering saat di mobil melakukan perjalanan ke pesantren. Kang Dadan selalu mencari makna hakekat dan makrifat, ia selalu gelisah takut ibadahnya kurang sempurna. Itulah perjalanan sunyi Kang Dadan, dan kami membersamainya bersama beberapa teman Kiyai.
Di luar bidang kesufian dan tasawuf, kami juga disatukan karena musik. Kang Dadan saat mahasiswa tekun mendalami musik dan mampu menciptakan beberapa lagu. Di ruang kerjanya juga ada beberapa alat musik tertidur pulas karena lama tak pernah dimainkan.
Kang Dadan belakangan mulai mempertanyakan dan membedah rahasia musik Sufi dan kami diskusi panjang lebar. Tapi ini diskusi paling absurd karena diskusi musik Sufi tanpa memainkan alat musik. Kami juga belum sempat berkolaborasi pentas musik Sufi. Kami masih ada cita-cita menuliskan perjalanan sunyi spiritual Kang Dadan, seorang sarjana agama yang mampu tampil sejajar dengan sarjana dari universitas umum.
Bagi kami Kang Dadan adalah kakak senior yang menginspirasi para alumni IAIN dan UIN untuk terus berkarya tanpa kenal batas. Apapun jenis pekerjaan yang masih bisa dipelajari, tidak ada yang sulit. Itu prinsip Kang Dadan saat berkarir di dunia yang tidak familiar dengan ijazah sarjananya.
Mungkin saya (Bang Sufi) orang terakhir yang sempat berkomunikasi lewat telepon pada Rabu, 13 Mei 2026 siang. Dia tidak mengeluh sakit, dia hanya bilang siap membantu kegiatan. Tapi mungkin itu tanda-tanda semesta, ada kata-kata bisi teu bisa pendak deui… ternyata Alloh maha sayang, Kamis pukul 22.20 WIB Kang Dadan berpulang menghadap sang Illahi. Saya bersaksi bahwa almarhum orang baik. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Selamat jalan Kang Dadan…
- Penulis: Admin Lintas Media

Saat ini belum ada komentar