Membangun Karakter dan Identitas Kebangsaan Melalui Seni Budaya
- account_circle Ki Acep Aan
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TASIKMALAYA, lintasmedia.id
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, penguatan karakter bangsa menjadi tantangan sekaligus kebutuhan penting. Salah satu cara yang dinilai efektif untuk menjaga jati diri bangsa adalah melalui pelestarian seni dan budaya.
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya terus mendorong penguatan nilai-nilai kebangsaan dengan menjadikan Pancasila sebagai pilar budaya, melestarikan kearifan lokal, serta memanfaatkan literasi digital untuk menyebarkan narasi-narasi positif di tengah masyarakat.
Kepala Badan Kesbangpol Kota Tasikmalaya, H. Ajat Sudrajat, menjelaskan bahwa membangun karakter bangsa pada hakikatnya adalah membangun watak dan kepribadian masyarakat Indonesia. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, disiplin, kerja keras, religiusitas, dan toleransi menjadi fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Karakter bangsa dibangun dari hal-hal sederhana. Jujur saat berbicara, tepat saat berjanji, saling membantu, disiplin dalam menjalankan tugas, serta mencintai hasil karya sendiri. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang karena kita dipersatukan oleh rasa Indonesia,” ujarnya.

Menurut Ajat, identitas kebangsaan memiliki tiga unsur penting. Pertama, bahasa dan sastra yang menjadi suara bangsa, seperti Bahasa Indonesia, bahasa daerah, pantun, dan dongeng.
Kedua, seni dan budaya yang menjadi wajah bangsa, seperti batik, karawitan, wayang, tari tradisional, pendopo, dan berbagai simbol adat. Ketiga, nilai-nilai dan sejarah bangsa yang menjadi jiwa Indonesia, seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, serta semangat Proklamasi Kemerdekaan.
“Jika identitas bangsa kuat, pengaruh budaya asing hanya akan lewat. Tidak akan mampu mengubah kita menjadi bangsa lain,” tegasnya.
Seni budaya, lanjut Ajat, merupakan sarana yang efektif untuk menanamkan karakter sekaligus memperkuat identitas kebangsaan. Menyanyikan lagu daerah, mengenakan pakaian adat, menjaga situs budaya, hingga aktif di sanggar seni merupakan bentuk nyata kecintaan terhadap budaya bangsa.
Budayawan Tasikmalaya, Ki Acep Aan, menambahkan bahwa masyarakat harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
“Kita boleh belajar ke seluruh dunia, tetapi kaki tetap berpijak di tanah leluhur. Kita boleh menggunakan teknologi modern, tetapi hati tetap mengingat lagu-lagu daerah. Kita boleh menguasai bahasa asing, tetapi jangan melupakan bahasa sendiri. Bangsa tanpa karakter ibarat rumah tanpa pondasi, terlihat indah dari luar tetapi rapuh ketika diguncang,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Budaya Kota Tasikmalaya, Agus Fauzi, menegaskan bahwa seni budaya bukan sekadar warisan leluhur yang harus dijaga, melainkan kekuatan besar yang mampu memperkokoh jati diri, mempererat persatuan, serta membangun karakter bangsa.
Melalui pelestarian berbagai kesenian lokal seperti pencak silat, lengser, ambu midang, seni tradisional, dan aktivitas budaya lainnya, masyarakat diharapkan semakin mencintai identitasnya sendiri.
Dengan demikian, Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang kuat, berwibawa, dan berkarakter, termasuk di Kota Tasikmalaya yang dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan tradisi dan budaya.
- Penulis: Ki Acep Aan
- Editor: Thio Renaldy

Saat ini belum ada komentar