Denny Romdony Gertak SMAN 1 Tasikmalaya, PPDB Harus Dibongkar Total
- account_circle Yeyep Arip
- calendar_month Senin, 8 Jun 2026
- visibility 82
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TASIKMALAYA, lintasmedia.id.
Polemik proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMAN 1 Tasikmalaya mulai memanas. Anggota DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. H. Denny Romdony, melontarkan kritik keras dan mendesak agar seluruh proses rekrutmen siswa baru dibuka secara total ke publik.
Sorotan itu muncul setelah SMAN 1 Tasikmalaya resmi menyandang status Sekolah MAUNG, program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang digadang-gadang menjadi model sekolah elit pencetak generasi unggul dan berdaya saing tinggi.
Namun menurut Denny, status prestisius tersebut justru terancam tercoreng jika proses PPDB masih menyisakan pertanyaan dan kegelisahan di tengah masyarakat.
“Jangan sampai status Sekolah MAUNG hanya jadi simbol kemewahan nama, tetapi proses masuknya justru membuat publik curiga. Kalau sejak pintu gerbang penerimaan siswa saja sudah gaduh, bagaimana masyarakat bisa percaya?” tegas Denny, Senin (8/6/2026).
Ia mengaku menerima banyak aduan dari orang tua calon siswa yang mempertanyakan mekanisme seleksi PPDB. Mulai dari pembagian kuota, jalur zonasi, afirmasi, prestasi, hingga perpindahan tugas orang tua dinilai belum sepenuhnya transparan dan mudah dipahami masyarakat.
Menurutnya, kondisi itu berbahaya karena membuka ruang spekulasi liar yang pada akhirnya dapat merusak nama baik sekolah.
“SMAN 1 Tasikmalaya ini sekolah kebanggaan masyarakat. Jangan sampai citranya runtuh hanya karena pengelolaan PPDB yang tidak terbuka. Kalau memang semuanya bersih, buka saja semua data ke publik. Tidak perlu takut,” katanya.
Denny menegaskan, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan harus segera mempublikasikan seluruh data PPDB secara rinci, mulai dari jumlah pendaftar, kuota per jalur, daftar peserta yang diterima, hingga dasar penentuan kelulusan.
Ia menilai transparansi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban moral bagi sekolah yang sudah mendapat predikat unggulan dari pemerintah.
“Program Sekolah MAUNG harus bersih sejak hari pertama. Jangan sampai masyarakat menilai ada permainan, titipan, atau perlakuan khusus dalam proses penerimaan siswa baru. Ini menyangkut masa depan anak-anak dan kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Denny juga mendorong pembentukan tim pengawas independen yang melibatkan dewan pendidikan, komite sekolah, dan unsur masyarakat agar seluruh tahapan PPDB bisa diawasi secara terbuka.
Ia bahkan mengajak masyarakat Kota Tasikmalaya untuk aktif mengawal proses PPDB agar pendidikan tidak dikendalikan kepentingan tertentu.
“Pendidikan bukan milik segelintir orang. Jangan biarkan anak-anak kehilangan haknya karena sistem yang tidak jelas. SMAN 1 Tasikmalaya harus membuktikan diri sebagai Sekolah MAUNG yang unggul dalam kualitas sekaligus bersih dalam integritas,” pungkasnya.
- Penulis: Yeyep Arip

Saat ini belum ada komentar