Gotra Sawala Abad ke-17 di Keraton Kasepuhan Cirebon, Warisan Intelektual yang Menjaga Ingatan Nusantara
- account_circle Ki Acep Aan
- calendar_month Senin, 20 Jul 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TASIKMALAYA , lintasmedia.id
Di balik megahnya Keraton Kasepuhan Cirebon, tersimpan jejak penting perjalanan sejarah Nusantara yang hingga kini masih menjadi bahan kajian para budayawan dan sejarawan. Salah satunya adalah Gotra Sawala, sebuah forum musyawarah besar yang berlangsung pada abad ke-17, tepatnya sekitar 1677–1698.
Forum tersebut diprakarsai oleh Pangeran Wangsakerta atau Abdul Kamil Muhammad Nasrudin bersama Sultan Sepuh dan Sultan Anom Cirebon. Tujuannya bukan sekadar menghimpun cerita masa lalu, melainkan menyusun dokumentasi sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman.
Pemerhati budaya Ki Acep Aan menyebut Gotra Sawala sebagai salah satu tonggak penting pelestarian sejarah Indonesia. Melalui forum itu, para ahli dari berbagai daerah berkumpul untuk menghimpun sumber sejarah berupa prasasti, naskah kuno, hingga tradisi lisan yang kemudian disusun menjadi karya monumental.
Hasilnya melahirkan ratusan naskah, di antaranya Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Pustaka Pararatwan, dan Pustaka Nagarakretabhumi. Karya-karya tersebut memuat silsilah kerajaan, perjalanan para raja, serta perkembangan peradaban di berbagai wilayah Nusantara.
Kajian itu juga diperkuat oleh berbagai sumber primer, seperti Prasasti Tarumanegara, Kawali, Batutulis, Kebantenan, hingga naskah kropak seperti Carita Parahyangan dan Sanghyang Siksakandang Karesian. Dari dokumen-dokumen tersebut terungkap keberadaan kerajaan besar seperti Tarumanegara, Sunda, Galuh, Kawali, Kendan, hingga Pakuan Pajajaran beserta para rajanya.
Menariknya, Gotra Sawala tidak hanya melibatkan utusan dari kerajaan-kerajaan di Jawa Barat, termasuk Galuh, Sumedang, Sukapura, Talaga, dan Rajagaluh. Sejumlah tokoh dari luar Nusantara, seperti Arab, India, Sri Lanka, Campa, Benggala, hingga Cina, juga disebut hadir sebagai penasehat maupun pengamat.
Bagi Ki Acep Aan, warisan Pangeran Wangsakerta merupakan “mutiara Jawa Barat” yang patut dijaga. Gagasan dan dokumentasi yang disusunnya dinilai mampu memperkaya pemahaman tentang sejarah Nusantara, bahkan dianggap mendahului sejumlah teori yang kemudian berkembang di kalangan sejarawan modern.
Di tengah derasnya arus informasi, Gotra Sawala menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan fondasi jati diri bangsa. Menjaga dan mengkaji kembali naskah-naskah kuno adalah bagian dari upaya merawat identitas budaya Indonesia agar tetap hidup lintas generasi.
- Penulis: Ki Acep Aan

Saat ini belum ada komentar