Sultan Sepuh Ungkap Makna Haul Pangeran Arya Natareja
- account_circle Yeyep Arip
- calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
- visibility 40
- comment 0 komentar
- print Cetak

oplus_0
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIAMIS,lintasmedia.id
Ribuan peziarah dari berbagai daerah memadati kawasan Makam Gunung Galuh, Desa Sindangrasa, Kabupaten Ciamis, dalam pelaksanaan Ziarah Akbar dan Haul Pangeran Arya Natareja, Ahad (14/6/2026).
Di tengah lantunan doa dan tahlil yang menggema dari kaki hingga puncak Gunung Galuh, hadir sosok yang menjadi perhatian para peziarah, yakni Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja atau Sultan Sepuh Jaenudin II Arya Natareja.
Kehadiran Sultan Sepuh bukan sekadar memenuhi undangan seremonial.
Dalam pidatonya yang penuh makna, ia mengajak masyarakat untuk kembali menengok jejak sejarah para leluhur yang telah mewariskan peradaban, nilai keislaman, serta semangat persatuan yang masih terasa hingga saat ini.
Menurut Sultan Sepuh, Haul Pangeran Arya Natareja bukan hanya agenda rutin tahunan, melainkan ruang perenungan untuk mengenang perjuangan para pendahulu yang telah mengorbankan hidupnya demi menjaga agama, budaya, dan kehormatan masyarakat.
“Jangan sampai generasi muda tercerabut dari akar sejarahnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para leluhur dan mampu mengambil pelajaran dari perjalanan masa lalu,” tegas Sultan Sepuh di hadapan ribuan peziarah.
Pesan tersebut disambut khidmat oleh masyarakat yang hadir. Banyak di antara mereka datang bersama keluarga sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang diyakini memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Galuh dan Kesultanan Cirebon.
Sultan Sepuh menjelaskan bahwa Pangeran Arya Natareja merupakan sosok penting dalam garis keturunan Kesultanan Cirebon. Meski memiliki hak sebagai putra mahkota, beliau memilih jalan pengabdian dan tidak mengejar singgasana kekuasaan. Pilihan itu menjadi teladan tentang ketulusan, pengorbanan, dan dedikasi kepada masyarakat.
Karena itu, keberadaan Makam Gunung Galuh dinilai bukan sekadar situs sejarah, melainkan simbol perjalanan spiritual yang harus dijaga bersama oleh generasi sekarang dan yang akan datang.
Dalam kesempatan tersebut, Sultan Sepuh juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa.
Ia menilai nilai-nilai yang diwariskan para leluhur seperti gotong royong, persaudaraan, dan dakwah yang menyejukkan harus terus hidup di tengah masyarakat.
“Saya bangga melihat masyarakat Tatar Galuh masih menjaga tradisi ziarah dan penghormatan kepada para pendahulu. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Ciamis tidak melupakan sejarahnya,” ujarnya.
Menurutnya, Haul Pangeran Arya Natareja bukan hanya milik keluarga keturunan, tetapi telah menjadi milik seluruh masyarakat yang ingin menjaga warisan sejarah, budaya, dan nilai perjuangan para leluhur.
Sepanjang hari, kawasan Gunung Galuh dipenuhi peziarah yang mengikuti rangkaian doa bersama, tahlil, tausiyah, dan silaturahmi. Suasana religius berpadu dengan semangat kebersamaan, menjadikan haul tahun ini sebagai momentum memperkuat ukhuwah sekaligus menghidupkan kembali kesadaran akan pentingnya menjaga identitas sejarah dan budaya Tatar Galuh.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, pesan Sultan Sepuh menjadi pengingat bahwa masa depan yang kuat hanya dapat dibangun oleh masyarakat yang tidak melupakan akar sejarahnya.
- Penulis: Yeyep Arip

Saat ini belum ada komentar